PFI dan Social Investment Indonesia Perkuat Kapasitas Organisasi Filantropi dalam Mengelola Program Berbasis Dampak

Jakarta, 21 Agustus 2026 — Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) menyelenggarakan Philanthropy Skill Development (PSD) #35: Penguatan Manajemen Program Berbasis Dampak untuk Organisasi Filantropi pada 20–21 Agustus 2026 di Aula Perhimpunan Filantropi Indonesia, Jakarta.

Pelatihan ini hadir untuk menjawab kebutuhan organisasi filantropi dalam memastikan setiap program yang dijalankan tidak hanya terlaksana dengan baik, tetapi juga mampu menghasilkan perubahan yang nyata, terukur, dan berkelanjutan. Penguatan manajemen program menjadi salah satu kebutuhan utama anggota PFI, terutama dalam menghubungkan aktivitas, output, outcome, hingga dampak serta menetapkan indikator keberhasilan yang relevan.

Melalui PSD #35, peserta dibekali pendekatan dan perangkat untuk merancang, mengelola, memantau, serta mengevaluasi program secara lebih sistematis dan berbasis data.

Merancang Program dari Masalah hingga Dampak

Selama dua hari, peserta mempelajari sejumlah pendekatan utama dalam manajemen program berbasis dampak, mulai dari Theory of Change (ToC), Results Chain Analysis, Logical Framework (Logframe), hingga Learning & Adaptation. Materi disampaikan oleh tim YSII dengan pendekatan yang menggabungkan pemahaman konsep dan penerapannya dalam perencanaan program.

Salah satu pembelajaran penting adalah bagaimana memastikan setiap program berangkat dari permasalahan yang tepat dan memiliki hubungan yang logis antara intervensi dengan perubahan yang ingin dicapai. Melalui Theory of Change, peserta diajak memahami hubungan antara kondisi awal, intervensi, dan kondisi yang diharapkan, sehingga program tidak berhenti pada pelaksanaan aktivitas, tetapi memiliki arah perubahan yang jelas.

Materi juga memperkenalkan Logical Framework Approach (LFA) sebagai alat untuk menyusun kerangka logis program. Peserta belajar menghubungkan goal/impact, outcome, output, dan kegiatan, sekaligus menentukan indikator, target, sumber verifikasi, serta asumsi dan risiko yang dapat memengaruhi keberhasilan program.

Pendekatan ini menempatkan program sebagai sebuah rangkaian perubahan: input → activities → output → outcome → impact. Dengan kerangka tersebut, organisasi dapat melihat dengan lebih jelas apa yang dihasilkan oleh sebuah aktivitas dan bagaimana hasil tersebut berkontribusi terhadap perubahan yang lebih luas.

Dari Menjalankan Program Menuju Mengelola Dampak

PSD #35 juga menekankan bahwa manajemen program merupakan sebuah siklus yang berlangsung dari penilaian kebutuhan, perancangan strategi, implementasi, monitoring dan evaluasi, hingga pelaporan dan komunikasi. Setiap tahapan saling terhubung dan menjadi dasar bagi organisasi untuk terus memperbaiki kualitas program.

Melalui pendekatan Learning & Adaptation, organisasi didorong untuk melakukan tinjauan secara berkala berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, kemudian menyesuaikan strategi apabila diperlukan. Dengan demikian, program dapat dikelola secara lebih adaptif terhadap perubahan kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Pembelajaran juga memperkuat pemahaman bahwa tujuan investasi sosial bukan sekadar menghasilkan output, tetapi mendorong perubahan sosial serta peningkatan aset dan akses masyarakat terhadap sumber daya yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan mereka.

Dalam materi Super Toolkit CSR, pendekatan tersebut kemudian diperluas melalui sejumlah perangkat seperti Theory of Change, Logical Framework Analysis, Outcome Mapping, Distribusi Manfaat, dan SROI Forecast. Keseluruhan pendekatan ini mendorong organisasi untuk melihat program secara lebih utuh—mulai dari arah perubahan, logika intervensi, perubahan perilaku, distribusi manfaat, hingga proyeksi nilai sosial yang dihasilkan.

Melalui pelatihan ini, PFI dan YSII mendorong organisasi filantropi untuk terus memperkuat praktik manajemen program yang efektif, adaptif, akuntabel, dan berorientasi pada dampak. Harapannya, peningkatan kapasitas tersebut dapat membantu organisasi memastikan bahwa sumber daya yang dikelola benar-benar berkontribusi terhadap perubahan sosial yang lebih optimal dan berkelanjutan.

PSD #35 menjadi bagian dari komitmen PFI dalam menyediakan ruang pembelajaran dan pengembangan kapasitas bagi ekosistem filantropi Indonesia—agar semakin banyak program sosial yang tidak hanya baik dalam pelaksanaan, tetapi juga kuat dalam menghasilkan dampak.

Bagikan:

Rekomendasi Berita

IMG_1230
Multi-Stakeholder Forum (MSF) Aliansi Filantropi Rumuskan Kerangka Program Pendidikan Desa yang Inklusif dan Berkelanjutan
PLF 71 (2)
Workshop Filantropi Indonesia – Kementerian Kesehatan (KEMENKES): Menguatkan Kolaborasi untuk Pembangunan Kesehatan Nasional
Thumbnail Artikel 12
Etika Filantropi Indonesia

Berita Terkini

image 3
Klaster Filantropi Lingkungan PFI Perkuat Kolaborasi melalui Kick Off Eco Cluster Coffee Club
IMG_7645 (1)
PFI dan Social Investment Indonesia Perkuat Kapasitas Organisasi Filantropi dalam Mengelola Program Berbasis Dampak
Beban Kesehatan Tembus Rp120 Triliun, PFI Serukan Penanganan Sistemik Karhutla di Indonesia
Dapatkan berita dan informasi terbaru dari kami

Buat langkah kecil untuk bangkitkan perubahan