Bogor–Jakarta, Agustus 2026 — Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) terus mendorong penguatan kesiapsiagaan filantropi dalam menghadapi risiko bencana, cuaca ekstrem, dan dampak perubahan iklim. Melalui audiensi bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), PFI menjajaki peluang kolaborasi untuk memperkuat pemanfaatan data, informasi, serta sistem peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan dan aksi di lapangan.
Audiensi bersama BIG yang berlangsung pada 18 Agustus 2026 dan BMKG pada 20 Agustus 2026 menjadi langkah awal untuk mempertemukan kapasitas pemerintah dalam penyediaan data dan informasi dengan jejaring organisasi filantropi yang memiliki pengalaman serta kapabilitas implementasi di lapangan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan dan respons yang lebih tepat sasaran, adaptif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Menjembatani Data dan Informasi untuk Aksi yang Lebih Tepat Sasaran
Salah satu tantangan yang dihadapi organisasi filantropi adalah kesenjangan antara data yang tersedia di lapangan dengan basis data pemerintah, termasuk keterbatasan dalam memperoleh informasi yang lebih spesifik berdasarkan lokasi. Ketersediaan data yang akurat dan terkini menjadi penting untuk membantu organisasi memahami kebutuhan masyarakat sekaligus memastikan sumber daya dapat diarahkan kepada wilayah dan kelompok yang membutuhkan.
Dalam konteks tersebut, PFI bersama BIG menjajaki rencana integrasi data dengan platform Informasi Geospasial Tematik (IGT) yang dapat mendukung pengembangan Philanthropy Impact. Integrasi ini diharapkan dapat mempertemukan data kebutuhan dan kapabilitas organisasi filantropi dengan informasi geospasial, sehingga menghasilkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi, potensi, dan kebutuhan di tingkat lokal.
Pemanfaatan data geospasial juga membuka peluang untuk mendukung agenda Multi-Stakeholder Forum (MSF) Pengentasan Kemiskinan, khususnya dalam pemetaan kondisi dan potensi desa. Berbagai variabel, mulai dari ekonomi lokal, konservasi lingkungan, ketangguhan bencana berbasis komunitas, hingga penguatan kelembagaan desa, dapat menjadi dasar untuk merancang intervensi yang lebih kontekstual dan berbasis kebutuhan.
Di sisi lain, kolaborasi dengan BMKG diarahkan pada pemanfaatan informasi meteorologi dan iklim agar dapat diterjemahkan menjadi aksi yang lebih konkret bagi masyarakat. Salah satu pendekatan yang dibahas adalah Impact-Based Forecast (IBF), yaitu penyampaian informasi yang tidak hanya berfokus pada ancaman cuaca atau iklim, tetapi juga menghubungkannya dengan potensi dampak serta rekomendasi tindakan yang dapat dilakukan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena informasi risiko perlu dapat dipahami dan ditindaklanjuti oleh berbagai sektor. Melalui pengembangan sistem peringatan dini berbasis dampak, informasi dari observasi, analisis, dan pemodelan dapat dihubungkan dengan tingkat bahaya, eksposur, dan kerentanan untuk menghasilkan rekomendasi aksi yang lebih relevan.
Memperkuat Kesiapsiagaan dan Ketahanan Masyarakat melalui Kolaborasi
Kolaborasi dengan BIG dan BMKG memperkuat pemahaman bahwa kesiapsiagaan tidak dapat dibangun hanya melalui ketersediaan data atau informasi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana data dan informasi tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengambilan keputusan, perencanaan program, dan aksi nyata di tingkat masyarakat.
Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk fenomena El Niño, pendekatan berbasis lokasi menjadi semakin penting karena tingkat risiko dan kerentanan berbeda di setiap wilayah. Data geospasial dapat membantu memahami kondisi dan kebutuhan suatu wilayah, sementara informasi iklim dan peringatan dini dapat mendukung identifikasi risiko serta tindakan yang perlu dilakukan.
PFI melihat peluang untuk menghubungkan kedua pendekatan tersebut dengan kapasitas organisasi filantropi dan jejaring implementor di lapangan. Melalui pendekatan multipihak, organisasi filantropi dapat mengambil peran dalam menjembatani informasi dengan aksi, memperkuat kapasitas masyarakat, serta mendukung intervensi yang lebih adaptif terhadap kondisi dan kebutuhan lokal.
Ke depan, PFI akan melanjutkan pembahasan bersama BIG terkait pemetaan dan integrasi data, sekaligus menjajaki mekanisme kesiapsiagaan yang berkelanjutan bersama BMKG. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat mendukung pengembangan agenda lintas sektor, termasuk melalui MSF dan berbagai inisiatif filantropi di tingkat komunitas.
Dengan mempertemukan data geospasial, informasi iklim, kapasitas filantropi, dan kekuatan kolaborasi multipihak, PFI mendorong terbangunnya ekosistem kesiapsiagaan yang tidak hanya responsif ketika risiko terjadi, tetapi juga mampu melakukan tindakan lebih awal dan memperkuat ketahanan masyarakat secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, data dan informasi bukan hanya menjadi alat untuk memahami risiko, tetapi menjadi fondasi untuk mengubah pengetahuan menjadi aksi dan membangun ketahanan bersama.





