Menyelamatkan Bumi: Bagaimana Program Filantropi Membantu Lingkungan dan Iklim 

Oleh: Mohammad Zuhair, Wakil Ketua Bidang III Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia

Isu lingkungan hidup dan iklim adalah permasalahan yang tidak bisa dihindari dan  menjadi salah satu program Perhimpunan Filantropi Indonesia. Mulai dari masalah pencemaran sungai, polusi udara di perkotaan, sampah, hilangnya ruang hijau dan lain sebagainya. Sejumlah masalah ini mengakibatkan kerusakan lingkungan namun upaya perbaikan pencegahannya masih belum banyak disadari banyak pihak. Sementara bumi harus segera diselamatkan demi menciptakan kondisi dan lingkungan hidup yang sehat demi kemaslahatan manusia. 

Dalam rangka penyelamatan bumi, selama ini lembaga filantropi telah menunjukkan komitmen terhadap agenda perubahan iklim yang ditandai dengan adanya peningkatan kesadaran yang lebih baik tentang pentingnya isu lingkungan. Selain itu, Perhimpunan Filantropi Indonesia memiliki kecenderungan positif terkait keterlibatan yang lebih inklusif dan peningkatan kontribusi terhadap tujuan-tujuan global. Berbagai lembaga filantropi juga selalu menyelaraskan kegiatan dengan agenda pemerintah baik nasional dan daerah, dan mengaitkan program tersebut dengan SDGs.  

Keterlibatan dan kontribusi Perhimpunan Filantropi Indonesia menunjukkan betapa besar potensi dan dampak filantropi dalam menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim. Tema kesehatan dan iklim serta lingkungan hidup dapat dikatakan sebagai program yang tergolong prioritas secara umum dengan lebih dari 10% mengkategorikan tema tersebut sebagai prioritas. Hal ini ditandai dengan banyaknya lembaga terkait yang melihat isu perubahan iklim dan lingkungan berpotensi menjadi tren di masa depan. 

Program Menanam Pohon Filantropi Dalam Menyelamatkan Bumi

Kekuatan dan sumber daya kolektif sangat dibutuhkan dalam bidang filantropi. Hal ini dikarenakan dengan adanya penggabungan kekuatan, pengumpulan sumber daya, berbagi pengetahuan dan pemanfaatan keahlian dapat membantu terciptanya kekuatan untuk menangani isu lingkungan hidup. Menangani isu lingkungan hidup membutuhkan kerjasama yang kolaboratif antar lembaga filantropi, mengingat banyaknya aspek terkait lingkungan yang membutuhkan perhatian seperti penanganan perubahan iklim, air bersih dan sanitasi layak, ekosistem laut, dan ekosistem darat. 

Penanganan ekosistem darat berkaitan dengan bagaimana filantropi bisa lebih banyak menghadirkan ruang hijau guna menjalankan misi penyelamatan bumi. Dalam rangka menyelamatkan bumi, tercatat Klaster Filantropi Lingkungan Hidup sempat melakukan program tanam pohon secara serentak di 18 provinsi di Indonesia. Kegiatan itu dilakukan tepat pada tanggal 5 Juni 2024 di hari Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 dengan mengusung tema “Our Land, Our Future, We Are #GenerationRestoration”. Kegiatan dilakukan berdasarkan UN Decade Ecosystem Restoration yang menyuarakan seruan untuk perlindungan dan pelestarian ekosistem di seluruh dunia, guna menekankan kesadaran akan pentingnya memulihkan lahan dan meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan.

Kegiatan penanaman pohon ini bertujuan untuk menghentikan laju degradasi ekosistem dan memulihkannya untuk mencapai tujuan global. Dengan ekosistem yang sehat, maka kualitas hidup masyarakat juga akan meningkat, masyarakat juga mampu menyiapkan mitigasi dan adaptasi pada perubahan iklim, serta mengurangi laju kepunahan keanekaragaman hayati.  Menurut UN Decade Ecosystem Restoration 2021-2030, upaya restorasi lahan seluas 350 juta hektar ekosistem darat dan perairan berpotensi menghasilkan US$9 triliun dalam bentuk jasa ekosistem. Selain itu, restorasi ekosistem juga dapat menghilangkan 13 hingga 26 gigaton gas rumah kaca dari atmosfer. Di Indonesia sendiri dengan adanya restorasi ekosistem, maka ada peluang untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 52,92 juta ton karbon ekuivalen, yang meliputi restorasi ekosistem lahan kering, gambut, dan mangrove.

Dalam rangka menyemarakkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi (KFLHK), beserta Perhimpunan Filantropi Indonesia, Dompet Dhuafa, Belantara Foundation, Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) dan Disaster Management Center Dompet Dhuafa semua berkolaborasi dengan komunitas Ciliwung Muara dan pemangku kepentingan lainnya dalam kegiatan penanaman pohon di 18 provinsi Indonesia secara serentak. 

18 Provinsi yang ikut menyemarakkan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan Timur, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Filantropi Indonesia berserta lembaga terkait menargetkan setidaknya ada 3.000 bibit pohon yang ditanam di mana bibit-bibit tersebut ada bibit mangrove, jambu, alpukat durian, nangka dan mangga. 

Dengan menanam beberapa jenis bibit buah, diharapkan dari gerakan penanaman pohon untuk restorasi ekosistem ini tidak hanya sebagai usaha untuk menjaga lingkungan, tetapi juga bisa memberikan manfaat ekonomi untuk masyarakat setempat dan dapat menjadi tempat untuk kembalinya berkumpul para satwa seperti burung, kupu-kupu, bajing dan lain sebagainya. 

Ajakan Mengurangi Perubahan Iklim

Dalam rangka memperingati Hari Ozon Sedunia, Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi mengajak seluruh mitra dan juga masyarakat untuk mengurangi perubahan iklim. Kerusakan iklim mulanya diakibatkan oleh terjadinya penipisan lapisan ozon yang berperan sebagai pelindung bumi, padahal ozon sangat penting untuk menangkal sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya.  Sehingga jika lapisan ozon menipis, kehidupan di bumi akan terancam karena sinar UV yang diterima langsung dapat mengakibatkan kanker kulit, gangguan sistem imun, dan rusaknya ekosistem. 

Persoalan ini menjadi topik utama pertemuan Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) dan DMC Dompet Dhuafa yang berkolaborasi dalam memperingati Hari Ozon 2024, dengan tema “Lindungi Ozon, Kurangi Perubahan Iklim”.  PFI sebagai organisasi yang berkomitmen dalam isu lingkungan dan filantropi, bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lapisan ozon demi keberlangsungan hidup. Dalam acara ini, disampaikan juga sesi  mengenai kebijakan dan upaya pemerintah dalam menyelamatkan lapisan ozon. 

Lapisan ozon yang kini menipis diketahui akibat adanya jenis bahan perusak ozon seperti CFC, metil kloroform, hingga pelarut tipe-x. Namun di tahun 1992, perlahan-lahan para pabrik mulai mengurangi penggunaan bahan-bahan tersebut. Namun tidak bisa disangkal bahwa masyarakat juga memiliki peran penting terkait kondisi ozon. Disini Ahmad Baikhaki, Manager Kesiapsiagaan Adaptasi Perubahan Iklim dari DMC Dompet Dhuafa, menyampaikan betapa pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim, khususnya ancaman radiasi sinar UV yang dapat merusak kulit dan ketahanan pangan. Ia menyoroti pentingnya menjaga lapisan ozon karena kondisi ozon yang buruk akan berdampak pada sektor pertanian dan juga mengakibatkan perubahan iklim. 

Sinkronisasi Agenda Filantropi dengan SDGs

Selama menjalani program penyelamatan lingkungan, Perhimpunan Filantropi Indonesia selalu menjaga agendanya bisa berjalan sesuai dengan tujuan dari SDGs seperti pengelolaan lingkungan, dan menekan perubahan iklim. Penyelarasan agenda filantropi Indonesia dengan tujuan SDGs dapat dilihat dari model pelaporan program lembaga filantropi yang semakin relevan dengan agenda SDGs yaitu tentang perubahan iklim dan lingkungan atau ekosistem. Kedua isu ini merupakan adopsi dari agenda SDGs, apalagi jika diamati saat ini, isu lingkungan menjadi isu yang terus meningkat jika dibandingkan dengan yang lain. 

Penyelarasan program agenda SDGs global dengan program nasional yang dilakukan lembaga filantropi dilakukan dengan tetap berpijak pada nilai yang dianut oleh tiap-tiap lembaga yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Selain itu, sejumlah lembaga terkait yang bergerak di isu lingkungan hidup juga menyelaraskan kegiatannya dengan agenda pemerintah nasional dan daerah. 

Menyelaraskan kegiatan lembaga filantropi dengan agenda SDGs merupakan tantangan tersendiri bagi Perhimpunan Filantropi Indonesia. Hal ini dikarenakan selarasnya program filantropi dengan agenda SDGs global, maka filantopi dapat menunjukkan kontribusinya di mata global. Meskipun penyelarasan sudah dilakukan sebaik mungkin, namun masih ada lembaga yang belum menyelaraskan agenda dan pencatatannya dengan target SDGs. Ini tentu menjadi PR bagi setiap lembaga filantropi Indonesia karena akan mempengaruhi kepercayaan publik.

Bagikan:

Rekomendasi Berita

ChangemakersGathering-1
Pembiayaan Campuran Berkelanjutan untuk Mendukung Yurisdiksi Perintis di Indonesia
WhatsApp Image 2025-01-16 at 16.20
Transformasi Bisnis Sosial: Model Berkelanjutan dari Bina Trubus Swadaya
welcoming-pfi-jd-member-caf
PFI Resmi Bergabung dengan Jaringan Charities Aid Foundation: Langkah Strategis Memperkuat Ekosistem Filantropi

Berita Terkini

environmental-protection-326923_1280
Menyelamatkan Bumi: Bagaimana Program Filantropi Membantu Lingkungan dan Iklim 
Multi-Stakeholder Forum (MSF) Aliansi Filantropi Perkuat Kerangka Kampanye dan Komunikasi Kolaboratif untuk Agenda Filantropi Nasional
books-5211309_1280
Pentingnya Integrasi dan Kolaborasi Multi Pihak Program-Program Filantropi di Bidang Pendidikan
Dapatkan berita dan informasi terbaru dari kami

Buat langkah kecil untuk bangkitkan perubahan