Memperkuat Kesiapsiagaan dan Aksi Bersama Lembaga Filantropi

Jakarta, 4 September 2026 – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) melalui Philanthropy Thought Leaders (PTL) #33 membahas strategi mitigasi dan penanggulangan dampak fenomena El Niño. Diskusi yang berlangsung di Human Initiative ini menjadi ruang untuk melihat keterkaitan fenomena iklim dengan kerentanan sosial dan ekonomi, sekaligus mendorong perubahan pendekatan dari respons yang reaktif menuju kesiapsiagaan dan aksi yang lebih antisipatif.

Memahami El Niño dan Dampaknya terhadap Masyarakat

El Niño dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pangan, pertanian, kesehatan, sumber daya air, hingga lingkungan. Dalam pengantarnya, Dian A. Purbasari menekankan pentingnya melihat El Niño tidak hanya sebagai fenomena iklim, tetapi juga sebagai risiko yang dapat merembet menjadi kerentanan sosial dan ekonomi. Karena itu, kekuatan sumber daya perlu dipersiapkan dan dimobilisasi sejak awal untuk meminimalkan dampak.

Dari perspektif BMKG, setiap kejadian El Niño memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda. Pengalaman El Niño pada 2015, 2018, dan 2023 menunjukkan dampaknya terhadap kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga kondisi ekonomi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan untuk merencanakan dan mengantisipasi kekeringan yang dapat kembali terjadi dan diperparah oleh perubahan iklim.

Dari Informasi Iklim Menuju Early Action

BMKG menekankan pentingnya layanan iklim berbasis dampak yang mencakup observasi cuaca dan iklim, prediksi strategis, analisis dampak sektoral, serta peringatan dini. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor, termasuk pangan, kesehatan, kehutanan, energi, dan sumber daya air, untuk mendorong perubahan dari early warning menuju early action.

Dian juga menyoroti pentingnya data spasial untuk mengetahui ketersediaan sumber daya sekaligus memahami situasi lapangan secara lebih aktual. Teknologi dapat membantu menerjemahkan informasi tersebut menjadi peringatan yang cepat dan tepat sasaran serta mendukung pemetaan bantuan.

Teknologi Geospasial untuk Memetakan Risiko

Sementara itu, BIG menyoroti peran teknologi geospasial dalam memahami risiko El Niño dan perubahan iklim. Integrasi berbagai lapisan data spasial dapat digunakan untuk memetakan wilayah yang berisiko mengalami krisis air dan pangan.

Penginderaan jauh, analisis spasial, hingga pemodelan berbasis machine learning juga berpotensi mendukung estimasi risiko kekeringan dan pengembangan peringatan dini hingga tingkat desa. Teknologi tersebut dapat diperkuat melalui kombinasi model fisik dan kecerdasan buatan untuk mendukung pemodelan kebutuhan air dan kesiapsiagaan bencana.

Membuka Ruang Mitigasi bagi Filantropi

Tomy Hendrajati menekankan bahwa informasi prakiraan dapat menjadi window of opportunity bagi filantropi untuk melakukan mitigasi sebelum dampak terjadi. Ketika risiko sudah dapat diperkirakan, lembaga filantropi memiliki ruang untuk menyiapkan protokol, membangun kemitraan strategis, berbagi data, dan melakukan pre-positioning sumber daya.

Untuk memperkuat orkestrasi respons, diperlukan pula pemetaan aksi melalui dashboard terintegrasi, pembagian peran berdasarkan kompetensi lembaga, serta klasterisasi dukungan seperti WASH, pangan dan logistik, perlindungan, kesehatan, hunian, dan pendidikan.

Memperkuat Ketahanan melalui Pendidikan dan Teknologi

Dari sisi pendidikan dan kelompok rentan, Feiny dari INOVASI menyoroti bahwa dampak El Niño dan perubahan iklim tidak dirasakan secara setara. Kerentanan dapat beririsan dengan kemiskinan, gender, dan faktor lainnya. Karena itu, akses terhadap informasi kesiapsiagaan perlu diperkuat bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk anak-anak.

Sementara itu, Prof. Nunung dari BRIN menekankan pentingnya integrasi teknologi dan pendekatan manajemen bencana dari tahap pra hingga pascakejadian. Teknologi satelit dapat digunakan untuk pemantauan hotspot dan estimasi luas kebakaran, sementara pengembangan teknologi untuk pemantauan sumber daya air dan ketahanan pangan juga perlu terus diperkuat.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Iklim

Diskusi juga menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak dapat dilakukan secara sektoral. Setyo Budiantoro dari Seknas SDGs Bappenas menyoroti kompleksitas risiko yang dihadapi Indonesia, mulai dari kerentanan geologis, perubahan iklim, El Niño, hingga kerusakan ekosistem. Pendekatan berbasis ekosistem dan nature-based solutions dapat menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi risiko sekaligus memperkuat penghidupan masyarakat.

Dari perspektif filantropi, dibutuhkan fleksibilitas pendanaan dan cross-funding untuk mendukung inovasi berbasis masyarakat serta memberi ruang bagi proses pembelajaran. Sejalan dengan itu, para narasumber menekankan pentingnya kolaborasi antarpihak sesuai kapasitas dan mandat masing-masing lembaga.

Memperkuat Peran Filantropi dalam Aksi Antisipatif

Melalui PTL #33, PFI mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, filantropi, riset, teknologi, pendidikan, dan masyarakat untuk menghubungkan early warning dengan early action. Ke depan, pemanfaatan data, pemetaan sumber daya dan kapasitas anggota, pengembangan mekanisme kesiapsiagaan, serta kemitraan strategis menjadi bagian penting untuk memperkuat peran filantropi dalam menghadapi risiko iklim dan bencana secara lebih antisipatif.

Bagikan:

Rekomendasi Berita

Foto Kabar buat web
Potret Perilaku Berdonasi Masyarakat Indonesia Saat Pandemi
situation report baznas 16
Situation Report BAZNAS #16: #LekasPulihIndonesia untuk Tanggap Darurat COVID-19
Dokumentasi PLF 85 (1)
Kolaborasi Filantropi dan Pemerintah Siapkan Strategi “Sulsel Tangguh” Hadapi Dampak El Niño 2026

Berita Terkini

554cb349-991a-4039-94f2-b7216ec7b558
Menuju Ekosistem Filantropi yang Lebih Terhubung melalui Platform Digital PFI
WhatsApp Image 2026-09-30 at 16.03
Menuju Resiliensi Iklim: Mendorong Integrasi Data, Mobilisasi Sumber Daya, dan Kolaborasi Lintas Sektor Filantropi
IMG_8651
Dari Tahu Menjadi Laku: Belajar Mengelola Sampah melalui Aksi Nyata
Dapatkan berita dan informasi terbaru dari kami

Buat langkah kecil untuk bangkitkan perubahan