Dorong Pengetahuan Lokal sebagai Fondasi Pembelajaran Kontekstual dan Kolaborasi Filantropi

Jakarta, 2 Juli 2026 – Bagaimana pengetahuan yang lahir dari pengalaman masyarakat dapat menjadi bagian dari sistem pembelajaran yang lebih relevan? Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam Philanthropy Learning Forum (PLF) #93 bertajuk “Knowledge from the Ground Up: Belajar dari Ketangguhan Lokal” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Yayasan Transformasi Bakti Negeri (TBN) dan Tay Juhana Foundation (TJF) di MAXY AI Hub, Jakarta Selatan.

Forum ini menghadirkan ruang dialog lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, organisasi filantropi, akademisi, dan masyarakat sipil untuk membahas bagaimana pengetahuan lokal, hasil riset, serta pengalaman komunitas dapat menjadi fondasi pembelajaran yang lebih bermakna sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menjawab tantangan pembangunan.

Filantropi sebagai Penggerak Pembelajaran dan Kolaborasi

Dalam sambutannya, Rully N. Amrullah, Plt. Direktur Eksekutif Perhimpunan Filantropi Indonesia, menegaskan bahwa filantropi memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mendukung pendanaan program sosial. Menurutnya, filantropi juga berperan sebagai penghubung berbagai pemangku kepentingan untuk saling berbagi pengetahuan, membangun kapasitas, dan menciptakan ruang kolaborasi yang mampu menghasilkan dampak sosial yang berkelanjutan.

“Melalui Philanthropy Learning Forum, PFI ingin memperkuat ekosistem filantropi sebagai ruang pembelajaran bersama, memperluas jejaring kolaborasi, dan mendorong lahirnya solusi atas berbagai tantangan pembangunan,” ungkap Rully.

Senada dengan itu, Dody Armando, Operational Manager Yayasan Transformasi Bakti Negeri, menyampaikan bahwa pendidikan perlu dipahami sebagai proses yang membantu masyarakat memahami realitas sosial dan lingkungan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pembelajaran yang relevan dengan tantangan masa kini.

Buku Ilustrasi sebagai Jembatan antara Riset dan Masyarakat

Pada kesempatan yang sama, Tay Juhana Foundation meluncurkan buku ilustrasi Serial dari Indragiri Hilir: Pak Kelapa dan Tanah Gambut sebagai media pembelajaran yang mengangkat hasil riset menjadi cerita visual yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat.

Buku ini memperkenalkan praktik masyarakat dalam mengelola lahan gambut, menjaga ketahanan pangan, serta beradaptasi terhadap perubahan lingkungan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui format ilustrasi, pengetahuan yang sebelumnya tersimpan dalam laporan penelitian diharapkan dapat menjangkau lebih banyak kalangan, termasuk anak-anak, pendidik, dan komunitas.

Mendorong Pembelajaran yang Bermakna dan Kontekstual

Dalam sesi gelar wicara, Irsyad Zamjani, Ph.D., Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menjelaskan pentingnya pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini tengah dikembangkan oleh Kemendikdasmen.

Ia menegaskan bahwa yang dimaksud bukanlah deep learning dalam kecerdasan buatan, melainkan pendekatan pembelajaran yang menekankan proses belajar yang bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful), dan menyenangkan (joyful).

Menurutnya, peserta didik akan lebih mudah memahami suatu konsep ketika materi pembelajaran dikaitkan dengan pengalaman dan kondisi nyata di sekitarnya. Oleh karena itu, pengetahuan lokal menjadi salah satu sumber belajar yang penting untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual.

Pengetahuan Lokal Menjadi Sumber Ketangguhan

Melalui pengalaman riset di Indragiri Hilir, Dinda Sonaloka, Assistant Manager Tay Juhana Foundation, menjelaskan bahwa masyarakat memiliki berbagai praktik adaptasi dalam mengelola lahan gambut dan mempertahankan sistem penghidupan mereka.

Praktik-praktik tersebut kemudian didokumentasikan melalui riset dan diterjemahkan menjadi buku ilustrasi agar dapat dipelajari oleh masyarakat luas tanpa kehilangan substansi pengetahuan yang dimiliki komunitas.

Sementara itu, Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, menekankan bahwa pengetahuan lokal merupakan hasil pengalaman masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan sehingga memiliki nilai yang penting untuk terus dipelajari, dikembangkan, dan disebarluaskan.

Diskusi ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal bukan hanya bagian dari warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber belajar untuk memahami berbagai isu strategis seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, dan keberlanjutan lingkungan.

Kolaborasi Lintas Sektor Menjadi Kunci

Para narasumber sepakat bahwa pengembangan pembelajaran yang kontekstual memerlukan kolaborasi antara pemerintah, organisasi filantropi, lembaga pendidikan, akademisi, masyarakat sipil, dan komunitas. Kolaborasi memungkinkan hasil riset, praktik baik di masyarakat, serta pengalaman lapangan dapat saling melengkapi dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang lebih relevan bagi masyarakat.

Dalam sesi diskusi, peserta juga menyoroti tantangan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), khususnya Papua. Menanggapi hal tersebut, para narasumber menegaskan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pendekatan one size fits all tidak lagi memadai. Program pendidikan maupun kolaborasi perlu dirancang berdasarkan kebutuhan dan konteks lokal agar mampu memberikan dampak yang lebih efektif.

Memperkuat Ekosistem Filantropi Melalui Pembelajaran Bersama

Melalui penyelenggaraan Philanthropy Learning Forum #93, Perhimpunan Filantropi Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem filantropi yang mendorong pertukaran pengetahuan, pembelajaran bersama, serta kolaborasi lintas sektor.

Ketika pengetahuan lokal, hasil riset, dan pengalaman masyarakat saling terhubung dengan praktik pendidikan dan gerakan filantropi, akan terbuka peluang yang lebih besar untuk menghadirkan solusi yang relevan, inklusif, dan berkelanjutan bagi pembangunan Indonesia.

Bagikan:

Rekomendasi Berita

PSD-Feb-2023
Pengukuran Dampak dan Kapasitas Lembaga Nirlaba Filantropi serta Bisnis
environmental-protection-326923_1280
Menyelamatkan Bumi: Bagaimana Program Filantropi Membantu Lingkungan dan Iklim 
Pertemuan Daring Pengembangan Inisiatif Perlindungan Relawan COVID-19
Pertemuan Daring Pengembangan Inisiatif Perlindungan Relawan COVID-19

Berita Terkini

WhatsApp Image 2026-07-27 at 09.03
Workshop Perencanaan Program MSF Aliansi Pengentasan Kemiskinan Satukan Analisis Sektoral Menuju Implementasi Program Berbasis Desa
IMG_6973
PFI Perkuat Arah Strategis Menuju Ekosistem Filantropi yang Lebih Kolaboratif dan Berkelanjutan
geralt-world-childrens-day-520272
Membangun Human Capital Indonesia Dimulai dari Investasi pada Anak 
Dapatkan berita dan informasi terbaru dari kami

Buat langkah kecil untuk bangkitkan perubahan