Mangrove untuk Masa Depan: Memperkuat Kolaborasi untuk Ketahanan Iklim dan Kehidupan Pesisir

Jakarta, 14 Agustus 2026 — Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir, menyerap karbon, sekaligus menopang kehidupan dan mata pencaharian masyarakat pesisir. Namun, menjaga mangrove tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui konservasi ekosistem, penguatan ekonomi masyarakat, tata kelola yang baik, serta kolaborasi lintas sektor.

Pesan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Philanthropy Sharing Session #67 “Mangrove untuk Masa Depan: Kolaborasi Menuju Ketahanan Iklim dan Kehidupan Lestari” yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (14/8). Forum ini mempertemukan berbagai pihak untuk menggali praktik baik sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.

Mangrove sebagai Ekosistem Sosio-Ekologis

Dalam pembukaan forum, PFI menekankan bahwa mangrove memiliki fungsi strategis, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kehidupan masyarakat pesisir. Karena itu, upaya konservasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan livelihood, tata kelola, serta kebijakan yang mendukung keberlanjutan ekosistem.

Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, filantropi, masyarakat, dan berbagai aktor lainnya menjadi penting untuk membangun kesadaran publik sekaligus mendorong aksi nyata. PFI melihat konservasi mangrove sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan yang membutuhkan pendekatan lintas sektor. Kolaborasi juga diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berkembang menjadi inovasi pembiayaan berbasis lingkungan, keterlibatan generasi muda, dan implementasi program di lapangan.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dalam paparannya menjelaskan bahwa mangrove kini tidak lagi dilihat semata sebagai vegetasi, tetapi sebagai sistem sosio-ekologis yang berperan dalam menjaga konektivitas biodiversitas, blue carbon, dan produktivitas perikanan.

Berdasarkan hasil inventarisasi, ekosistem mangrove dapat dikelompokkan ke dalam tiga tipologi, yaitu mangrove yang masih ada (existing) dengan tingkat kerapatan yang berbeda, wilayah yang berpotensi untuk rehabilitasi, serta wilayah pendukung non-mangrove. Strategi pengelolaannya mencakup tata ruang dan zonasi, pemanfaatan dan pemeliharaan, pemantauan dan perlindungan hukum, serta adaptasi terhadap perubahan iklim.

Forum juga menyoroti pentingnya pengelolaan mangrove yang berbasis kondisi dan kebutuhan wilayah. Pengalaman restorasi di sejumlah lokasi menunjukkan bahwa pendekatan adaptif, citizen science, perlindungan ekosistem, serta inovasi seperti organic coastal defence dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan kawasan pesisir.

Dari Menanam Mangrove Menuju Ketahanan Masyarakat

Salah satu pembelajaran penting dari forum adalah bahwa keberhasilan konservasi mangrove tidak dapat diukur hanya dari jumlah bibit yang ditanam. Yang lebih penting adalah bagaimana ekosistem tersebut tumbuh, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan dikelola secara berkelanjutan.

Dalam sesi talkshow, Rumah Zakat membagikan pengalaman melalui pendekatan ekosistem dalam program mangrove. Program tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga melihat keseluruhan ekosistem pesisir serta menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam pengambilan keputusan. Pengembangan produk berbahan dasar mangrove yang dapat dimonetisasi juga menjadi salah satu upaya menghubungkan konservasi dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Hal serupa terlihat dalam pengalaman Belantara Foundation dalam mendampingi pengelolaan hutan desa. Pendampingan dilakukan mulai dari pengusulan dan pengelolaan hutan desa, pengembangan usaha dan komoditas unggulan, penyusunan baseline data, hingga penguatan kelembagaan. Pembelajaran utamanya menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat sebagai pengambil keputusan menjadi kunci keberlanjutan pengelolaan kawasan. Pendekatan terhadap program juga perlu bergeser dari sekadar kegiatan karitatif menuju perspektif investasi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Dimensi sosial juga menjadi perhatian dalam upaya konservasi mangrove. CARE Indonesia menyoroti pentingnya peran perempuan yang selama ini berkontribusi besar dalam konservasi mangrove dan wilayah pesisir, namun masih membutuhkan pengakuan yang lebih kuat. Penguatan kepemimpinan perempuan, kelompok simpan pinjam, serta ekonomi produktif berbasis pesisir dapat menjadi bagian dari strategi membangun resiliensi ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Lindungi Hutan menekankan posisi mangrove sebagai bagian penting dari blue carbon dan agenda net-zero carbon serta SDGs. Pengelolaan dan rehabilitasi mangrove juga membutuhkan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) untuk memastikan dampak yang dihasilkan dapat dibuktikan.

Upaya membangun keberlanjutan juga membutuhkan keterlibatan generasi muda dan publik yang lebih luas. Strategi yang dibagikan dalam forum antara lain melalui kegiatan penanaman yang menyasar orang muda, edukasi, reforestathon, serta amplifikasi melalui media. Dari sisi komunikasi, media memiliki peran sebagai penerjemah isu lingkungan agar lebih mudah dipahami publik, sekaligus sebagai watchdog terhadap kebijakan dan penggerak aksi.

Pada akhirnya, menjaga mangrove membutuhkan lebih dari sekadar aksi penanaman. Masyarakat pesisir perlu dilibatkan, generasi muda perlu menjadi bagian dari gerakan, dan berbagai sektor perlu bekerja bersama untuk memastikan upaya konservasi menghasilkan dampak nyata. Forum ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan pendekatan triple helix untuk membangun kesadaran publik sekaligus mengubah kepedulian terhadap lingkungan menjadi aksi yang berkelanjutan.

Dengan mempertemukan pengetahuan, praktik lapangan, sumber daya, dan perspektif berbagai pihak, upaya menjaga mangrove diharapkan tidak berhenti pada pemulihan ekosistem, tetapi turut membangun ketahanan iklim, kemandirian ekonomi, dan kehidupan masyarakat pesisir yang lebih berkelanjutan.

Share:

Recomended News

PLF-61-3-1
Diskusi Pengembangan Kemitraan untuk Meningkatkan Insiatif Sosial, Ekonomi, Lingkungan, dan Pembiayaan di Tingkat Yurisdiksi
Pertemuan Daring Respon Filantropi Menghadapi Pandemi COVID-19 di Indonesia
Pertemuan Daring "Respon Filantropi Menghadapi Pandemi COVID-19 di Indonesia"
Dokumentasi PSS 51
Memperkuat Kemitraan Strategis untuk Ekosistem Filantropi Pendidikan yang Berkelanjutan

News Update

image 3
Klaster Filantropi Lingkungan PFI Perkuat Kolaborasi melalui Kick Off Eco Cluster Coffee Club
IMG_7645 (1)
PFI dan Social Investment Indonesia Perkuat Kapasitas Organisasi Filantropi dalam Mengelola Program Berbasis Dampak
Beban Kesehatan Tembus Rp120 Triliun, PFI Serukan Penanganan Sistemik Karhutla di Indonesia
Get the latest news and updates from us.

Take small steps to inspire change