Krisis lingkungan di Indonesia semakin akut. Deforestasi meningkat 66% menjadi 433.751 ha (2025), sementara wilayah pesisir kehilangan 19.501 hektare mangrove per tahun. Kualitas udara kita paling tercemar di Asia Tenggara dengan konsentrasi PM2.5 enam kali lipat ambang batas WHO. Sementara itu, kualitas air rendah (51,78) dengan akses air minum dan sanitasi aman hanya 11,8% dan 10,2%, Sedangkan produksi sampah kita mencapai 63 juta ton dan hanya 59,7% yang terkelola. Beragam persoalan lingkungan ini membuat Indonesia menduduki peringkat ke-162 dari 180 negara dalam Indeks Kinerja Lingkungan (2024).
Kondisi di atas menggambarkan bahwa permasalahan utama lingkungan hidup saat ini bukan hanya kerusakan ekosistem, tetapi juga lemahnya tata kelola sumber daya, tingginya produksi sampah, kerentanan wilayah pesisir, serta keterbatasan kapasitas komunitas dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim. Di banyak wilayah, masyarakat kecil, petani, nelayan, dan kelompok rentan menjadi pihak yang paling dahulu merasakan dampaknya. Karena itu, respon filantropi perlu bergerak dari sekadar bantuan menjadi penguatan ketahanan sosial-ekologis.
Klaster Filantropi Lingkungan Hidup PFI melihat bahwa beragam persoalan dan tantangan tersebut hanya dapat dijawab melalui kolaborasi lintas sektor yang berbasis pengetahuan, data, dan aksi bersama. Karena itu, laster ini dirancang dan dikembangkan sebagai ruang penghubung antara anggota, komunitas, akademisi, pemerintah, dan dunia usaha untuk mengembangkan solusi yang relevan dengan konteks Indonesia. Semangatnya adalah mempertemukan pembelajaran, advokasi, dan praktik baik dalam satu ekosistem kolaboratif.
Menghadapi situasi kritis ini, Klaster Lingkungan Hidup PFI sudah merumuskan prioritas strategis yang terstruktur dan berbasis data. Workplan klaster 2026 merumuskan aksi kolektif di 5 (ima) area prioritas: perubahan iklim, konservasi dan rehabilitasi ekosistem, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, ekosistem mangrove, serta pengembangan model aksi lingkungan berbasis masyarakat dan kolaborasi multipihak. Berbagai program telah diinisiasi, termasuk pemetaan portofolio anggota, forum pengelolaan sampah dan aksi lingkungan lintas agama, dialog multistakeholder penguatan kesadaran lingkungan dan kapasitas masyarakat pesisir, dan inisiatif lainnya..
Sebagai bagian dari transformasi PFI menuju Philanthropy Hub Indonesia, Klaster Lingkungan Hidup berfungsi sebagai jantung dan mesin utama organisasi dalam membangun budaya filantropi yang kolaboratif, berbasis pengetahuan, dan berorientasi pada dampak. Klaster memastikan filantropi Indonesia tidak hanya berkontribusi pada perlindungan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan kolektif membangun masa depan yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan.
PFI mengajak seluruh anggota dan mitra untuk menjadikan kolaborasi sebagai budaya, inovasi sebagai kebiasaan, dan dampak sebagai tujuan bersama. Dengan semangat gotong royong dan kepemimpinan kolektif, Klaster Lingkungan Hidup akan menjadi penggerak lahirnya solusi, praktik baik, dan perubahan yang lebih besar bagi Indonesia. Melalui aksi kolektif yang terencana dan terukur, filantropi Indonesia dapat memainkan peran strategis dalam mengatasi krisis lingkungan dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada masyarakat dan alam.




