Jakarta, 23 Juli 2026 – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menyelenggarakan Quarterly Forum Badan Kepengurusan sebagai momentum refleksi atas capaian organisasi sekaligus menyusun langkah strategis menuju akhir masa kepengurusan periode 2024–2027. Forum ini menjadi ruang diskusi bagi Badan Kepengurusan PFI untuk mengevaluasi perkembangan program, memperkuat arah strategis organisasi, serta memastikan berbagai inisiatif yang telah dibangun mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi ekosistem filantropi Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua Badan Pengurus PFI, Rizal Algamar, menegaskan bahwa Quarterly Forum bukan sekadar agenda pelaporan, tetapi ruang untuk mengukur kemajuan organisasi sekaligus mempersiapkan proses transisi kepengurusan secara berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa PFI telah menunjukkan perkembangan yang signifikan, termasuk bertambahnya jumlah anggota hingga lebih dari 300 organisasi serta meningkatnya jangkauan komunikasi publik dan keterlibatan anggota.
Memperkuat Value Proposition Filantropi Indonesia
Salah satu pembahasan utama dalam forum adalah penguatan Business and Philanthropy Indonesia Value Proposition sebagai fondasi pengembangan organisasi ke depan. Diskusi menyoroti pentingnya memperkuat empat pilar Perhimpunan Filantropi Indonesia melalui pengembangan klaster yang lebih partisipatif, penguatan kepemilikan anggota (member ownership), serta kolaborasi yang semakin erat dengan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sipil. Badan Pengurus juga menegaskan bahwa PFI perlu terus menjadi ruang temu berbagai aktor filantropi untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan riset terapan, serta mendorong lahirnya kolaborasi yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan secara lebih terintegrasi.
Mendorong Kolaborasi melalui Multi-Stakeholder Forum
Perkembangan Multi-Stakeholder Forum (MSF) Aliansi Pengentasan Kemiskinan turut menjadi fokus pembahasan. Forum ini telah memasuki tahap penyusunan implementasi program berbasis desa dengan menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Framework (SLF) sebagai dasar perancangan intervensi jangka panjang.
Melalui proses asesmen, MSF telah mengidentifikasi tiga tipologi desa dengan karakteristik kebutuhan yang berbeda, mulai dari desa yang masih memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar hingga desa yang siap memasuki tahap penguatan ekonomi dan keberlanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan intervensi yang lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ke depan, pembentukan Project Management Office (PMO) di tingkat desa maupun nasional menjadi langkah strategis untuk memastikan implementasi program berjalan secara terkoordinasi serta didukung oleh mekanisme pendanaan dan pengukuran dampak yang jelas.
Memperkuat Ekosistem Digital dan Layanan Keanggotaan
Quarterly Forum juga membahas pengembangan ekosistem digital sebagai bagian dari transformasi organisasi. Beberapa inisiatif strategis yang tengah dikembangkan meliputi Indonesia Philanthropy Directory sebagai basis data dan layanan keanggotaan, Indonesia Philanthropy Impact yang memetakan jangkauan program filantropi di berbagai wilayah Indonesia, serta Philanthropy Learning yang sedang dikembangkan sebagai platform pembelajaran bagi pelaku filantropi.
Selain itu, Badan Kepengurusan PFI juga membahas penguatan chapter daerah, pengembangan sistem Customer Relationship Management (CRM), serta peningkatan kualitas layanan kepada anggota guna mendorong partisipasi yang lebih aktif dalam ekosistem PFI.
Mendorong Inovasi Pembiayaan dan Penguatan Tata Kelola
Dalam aspek tata kelola dan keberlanjutan organisasi, forum membahas berbagai strategi untuk memperkuat ketahanan kelembagaan, termasuk pengembangan kebijakan investasi, tata kelola sumber daya manusia, serta eksplorasi skema innovative financing.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pengembangan instrumen investasi berdampak (impact investment) yang diharapkan dapat memperluas sumber pendanaan program sekaligus meningkatkan dampak sosial yang dihasilkan. Di sisi lain, diskusi juga menekankan pentingnya melanjutkan advokasi kebijakan, khususnya terkait reformasi regulasi Pengumpulan Uang dan Barang (PUB), peningkatan transparansi dan akuntabilitas sektor filantropi, serta perluasan insentif yang dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan filantropi.
Menyiapkan Transisi Kepengurusan yang Berkelanjutan
Menjelang berakhirnya masa kepengurusan periode 2024–2027, PFI mulai mempersiapkan proses transisi yang dirancang berlangsung secara bertahap mulai Oktober 2026. Proses tersebut mencakup pembentukan Badan Formatur, penyusunan mekanisme seleksi kepengurusan berikutnya, hingga penyusunan publikasi yang mendokumentasikan berbagai pembelajaran, praktik baik, dan pencapaian selama periode kepengurusan saat ini sebagai bagian dari proses knowledge transfer kepada kepengurusan selanjutnya.
Melalui Quarterly Forum ini, Perhimpunan Filantropi Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem filantropi Indonesia melalui kolaborasi lintas sektor, inovasi, tata kelola yang baik, serta pengembangan berbagai inisiatif strategis yang mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.





