Perhimpunan Filantropi Indonesia dan Tanoto Foundation Luncurkan Laporan Lanskap Filantropi Pendidikan dan Kesehatan 2025, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Manusia 

Jakarta, 30 Juni 2026 – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Tanoto Foundation meluncurkan publikasi Philanthropy Trend: Lanskap Filantropi di Bidang Pendidikan dan Kesehatan di Indonesia Tahun 2025 dalam acara Philanthropy Learning Forum (PLF) #86 bertajuk “Menavigasi Lanskap Pendidikan dan Kesehatan Indonesia 2025: Kolaborasi untuk Dampak Berkelanjutan.” Forum ini menjadi ruang dialog multipihak yang mempertemukan pemerintah, organisasi filantropi, sektor swasta, akademisi, dan media untuk memperkuat kolaborasi dalam mendukung pembangunan manusia, khususnya dalam bidang pendidikan (SDG 4) dan kesehatan (SDG 3) menuju Indonesia Emas 2045.

Penguatan kualitas pendidikan dan kesehatan merupakan pondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Di tengah kompleksitas tantangan pembangunan, sektor filantropi semakin menunjukkan peran strategis sebagai mitra pemerintah melalui berbagai inovasi sosial, perluasan akses layanan, serta pengembangan program yang berorientasi pada dampak jangka panjang. Publikasi yang diluncurkan dalam forum ini menunjukkan bahwa filantropi di Indonesia telah bertransformasi dari pendekatan berbasis karitas menuju pendekatan berbasis dampak (impact-driven), dengan menitikberatkan pada keberlanjutan program, penguatan kapasitas, serta pemanfaatan data dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Dalam sambutannya, Dian A. Purbasari, Wakil Ketua Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia, menegaskan bahwa tantangan pembangunan manusia tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. “Filantropi memiliki peran yang semakin strategis, bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai mitra pembangunan yang mampu menghadirkan inovasi, memperkuat kolaborasi, dan mendorong perubahan yang berkelanjutan. Melalui publikasi ini, kami berharap semakin banyak kolaborasi berbasis data yang dapat memperluas dampak bagi masyarakat,” ujar Dian.

Dalam pemaparan hasil riset, Katadata Insight Center mengidentifikasi bahwa filantropi di sektor pendidikan telah berkembang melalui berbagai inisiatif, seperti peningkatan kapasitas guru, penguatan ekosistem sekolah, pemanfaatan teknologi pembelajaran, hingga pengembangan pendidikan vokasi yang mempersiapkan generasi muda memasuki dunia kerja. Sementara itu, di sektor kesehatan, kontribusi filantropi terlihat melalui program percepatan penurunan stunting, penguatan pelayanan kesehatan dasar, peningkatan gizi ibu dan anak, serta pendekatan berbasis komunitas dalam membangun perilaku hidup sehat.

Meski demikian, hasil riset juga mengungkap sejumlah tantangan yang masih dihadapi sektor filantropi, antara lain keberlanjutan pendanaan, regulasi dan birokrasi, koordinasi lintas pemangku kepentingan, keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas di wilayah 3T, kualitas sumber daya manusia, serta belum optimalnya sistem data dan mekanisme pengukuran dampak. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ekosistem filantropi membutuhkan kolaborasi yang semakin erat, didukung kebijakan yang adaptif dan inklusif, serta komitmen bersama untuk memperluas dampak pembangunan.

Sejalan dengan temuan tersebut, diskusi yang menghadirkan perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Sekretaris Jenderal Ibu Ir. Suharti PhD.) serta Kementerian Kesehatan (Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas dr. Niken Wastu Palupi MKM) menghasilkan kesepahaman bahwa kolaborasi antara pemerintah dan sektor filantropi perlu bergeser dari pendekatan yang tersegmentasi  menuju kemitraan yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi pada hasil. Selain mendorong pemerataan mutu pendidikan melalui program yang dampaknya dapat diukur, kolaborasi juga dinilai penting untuk memperkuat layanan kesehatan primer, mempercepat penurunan stunting, serta meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses.

Senada dengan semangat tersebut, Murni Leo, Head of Measurement, Learning, and Evaluation  Tanoto Foundation, menegaskan pentingnya filantropi untuk memperkuat ekosistem agar berbagai inisiatif yang dijalankan dapat terus berkembang, terukur, dan memberi dampak yang lebih luas. 

Melalui publikasi Philanthropy Trend: Lanskap Filantropi di Bidang Pendidikan dan Kesehatan di Indonesia Tahun 2025, Perhimpunan Filantropi Indonesia dan Tanoto Foundation berharap hasil riset ini dapat menjadi rekomendasi  bagi pemerintah, organisasi filantropi, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil dalam merancang kolaborasi yang lebih efektif. Publikasi ini diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat kebijakan, memperluas praktik baik, serta membangun ekosistem filantropi Indonesia yang semakin kolaboratif, berbasis bukti, dan berorientasi pada dampak yang berkelanjutan.

Share:

Recomended News

DSC_0486
Pentingnya Penerapan, Penguatan Nilai-Nilai, dan Kolaborasi Kemanusian Untuk Menuju Solusi Inklusif dan Berkelanjutan
pss 62
PFI dan CIPS Dorong Dialog Kebijakan untuk Mewujudkan Pangan Sehat yang Lebih Terjangkau
PLF 74
Menuju Perubahan Sistemik dalam Pendidikan: Belajar dari Pengalaman Brasil

News Update

Dokumentasi PSD 33 (2)
Tax Planning Pelaksanaan Kewajiban Perpajakan Wajib Pajak dan Tax Planning Menghadapi Pemeriksaan Pajak (Strategi Mencapai Efisiensi Pajak)
plf 86
Perhimpunan Filantropi Indonesia dan Tanoto Foundation Luncurkan Laporan Lanskap Filantropi Pendidikan dan Kesehatan 2025, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Manusia 
Pengelolaan Sampah Membutuhkan Kolaborasi Lintas Sektor, PFI Dorong Inovasi untuk Solusi Berkelanjutan
Get the latest news and updates from us.

Take small steps to inspire change