Jadikan Ramadhan Ajang Edukasi Hemat Air: Kolaborasi PPLI dan Al-Azhar Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan

Bulan Suci Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, justru seringkali diwarnai dengan lonjakan penggunaan air rumah tangga. Fenomena ini menarik perhatian PT Prasadha Pamunah Limbah Industri, yang berdedikasi pada pengelolaan lingkungan dan daur ulang limbah.

Laboratorium Manager PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Muhamad Yusuf Firdaus, menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih mengandalkan detergen dengan busa melimpah. Menurutnya, tumpukan busa di aliran sungai dapat menghalangi sinar matahari dan oksigen masuk ke dalam air.

“Untuk mencuci kadang ibu-ibu suka detergen yang busanya melimpah. Padahal busa ini jadi masalah, kalau menumpuk terus ujung-ujungnya sinar matahari tidak bisa masuk ke sungai. Oksigen tidak dapat masuk, biota air di sungai terganggu dan lama-lama dia mati lalu terjadi pendangkalan,” ujar Yusuf dalam acara “Ngopling” (Ngobrol Peduli Lingkungan) bersama Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan di Jakarta, (11/3).

Ia juga menyentil perilaku sebagian umat saat bersuci. “Wudhu juga jadi persoalan. Kadang saat wudhu krannya dibuka maksimal. Padahal ini wudhu, bukan mandi,” sindirnya.

Karena itu Yusuf berharap semangat menjaga kelestarian lingkungan, termasuk penghematan air, disisipkan dalam forum umat seperti pengajian. “Menjaga kualitas air bisa menjadi ladang pahala, karena air adalah sumber kehidupan,” tambahnya.

Senada dengan itu, Supervisor Environmental Database and Program PPLI, Irfan Maulana, memaparkan data yang cukup mengejutkan. “Rata-rata penggunaan air tiap wudhu per orang mencapai 2,9 hingga 5 liter. Padahal secara sunnah, wudhu hanya membutuhkan 0,5 hingga 0,7 liter air, atau setara dengan satu botol air minum kemasan,” ucapnya. 

Prinsip penghematan inilah, sambung Irfan, yang selalu dikedepankan PPLI. “Di industri, kami terus mengampanyekan efisiensi ini,” ujarnya. 

Sebagai wujud komitmen nyata, semangat yang sama juga diusung PPLI dalam operasional bisnisnya. Sejak tahun 2025, PPLI yang tergabung dalam jaringan Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), telah mengelola kurang lebih 225 ribu meter kubik limbah yang berasal dari customernya. 

Pengolahan limbah menggunakan tiga metode, yakni secara kimiawi dan fisika atau physical chemical treatment. Kemudian evaporator, yakni pemekatan air untuk mengurangi total dissolved solids yang terkandung di air limbah, lalu dengan Teknik biologis menggunakan bakteri aktif untuk mengurangi kadar tercemar.

“Nah air hasil pengelolaan limbah itu, sebagian digunakan lagi untuk proses di PPLI. Misalnya untuk cuci kendaraan pengangkut atau pencucian kemasan. Kurang lebih selama 3 tahun ke belakang saja PPLI sudah bisa memanfaatkan sekitar 99 ribu meter kubik air yang seharusnya dibuang,” sebut Irfan.  

Membangun Mindset 3R Berbasis Rumah Ibadah

Direktur LAZNAS Al-Azhar, Iwan Rahman, menambahkan persoalan boros air di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor kultur dan ketersediaan sumber daya yang melimpah. Ia membandingkan perilaku jamaah saat umrah yang bisa berhemat air, tapi kembali jor-joran ketika di tanah air. 

“Sebagai negara yang air tanahnya melimpah, kita tidak pernah merasakan panasnya gurun. Sehingga mengkonsumsi air dalam jumlah besar seolah hal biasa,” sesal Iwan.

“Desain kran di masjid-masjid kita juga mayoritas mengeluarkan debit air yang terlalu besar,” sambungnya. Karena itu ia mendorong implementasi konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) berbasis masjid atau klaster pemukiman.

Iwan mencontohkan program pemberdayaan di Muara Enim, Sumatera Selatan yang digagas LAZNAS Al-Azhar. “Di sana kita menerapkan 3R. Ketika turbin berfungsi, arus listrik yang dihasilkan itu untuk menerangi masjid dan 200 rumah. Setelah itu airnya tidak dibuang, tapi dimanfaatkan untuk perkebunan, sawah dan sebagainya,” jelas dia. 

Menutup diskusi, para narasumber sepakat bahwa edukasi lingkungan harus disisipkan dalam tiap aktivitas, termasuk kegiatan keagamaan. “Lingkungan ini bukan cuma milik kita, tapi titipan untuk anak cucu kita,” pungkas Yusuf.

Share:

Recomended News

Kolaborasi Multi Pihak Percepat Penghapusan Kemiskinan Ekstrem melalui Gerakan Indonesia Berdaya
feature web rua 2023
Mendorong Kolaborasi dan Sinergi, untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
post-event-pssf-2020-agustus
Post Event PSSF: “Organizational Change Management During COVID-19”

News Update

WhatsApp Image 2026-05-13 at 10.33
Jadikan Ramadhan Ajang Edukasi Hemat Air: Kolaborasi PPLI dan Al-Azhar Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan
Dokumentasi PLF 85 (1)
Kolaborasi Filantropi dan Pemerintah Siapkan Strategi “Sulsel Tangguh” Hadapi Dampak El Niño 2026
Rapat Umum Anggota PFI (1)
RUA 2026: PFI Perkuat Peran Filantropi sebagai Penggerak Solusi Nasional
Get the latest news and updates from us.

Take small steps to inspire change