Oleh: Bapak Ahmad Juwaini – Dompet Dhuafa dan Bapak Tutuk Utomo Nuradhy – doctorSHARE
Menyusui kerap dipandang sebagai bagian dari pengalaman pribadi seorang ibu. Ketika seorang ibu tidak memberikan ASI eksklusif, pembicaraan tentang hal ini sering kali berpusat pada pengetahuan, kesiapan, atau keputusan yang diambilnya. Padahal, di balik perjalanan menyusui, ada banyak faktor yang turut menentukan apakah seorang ibu dapat memberikan ASI kepada anaknya sebagaimana yang diharapkan.
Ada pasangan yang mendampingi, keluarga yang memberikan dukungan, tenaga kesehatan yang membantu ketika kesulitan muncul, serta tempat kerja yang memungkinkan seorang ibu tetap menyusui setelah kembali bekerja. Ada pula kebijakan, fasilitas publik, dan norma sosial yang dapat memudahkan atau justru menyulitkan perjalanan tersebut.
Dengan kata lain, menyusui bukan semata-mata tentang apa yang diketahui atau diputuskan seorang ibu. Ia juga tentang lingkungan yang memungkinkan keputusan itu diwujudkan. Sebab, mengetahui pentingnya ASI dan mampu memberikan ASI secara optimal merupakan dua hal yang tidak selalu berjalan beriringan.
Perspektif inilah yang mengemuka dalam Philanthropy Learning Forum (PLF) #98 bertajuk “Menyusui Selamatkan Nyawa, Hemat Biaya”. Forum yang mempertemukan pemerintah, organisasi filantropi, tenaga kesehatan, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil ini mengajak para pemangku kepentingan melihat menyusui dalam perspektif yang lebih luas: bukan hanya sebagai intervensi kesehatan ibu dan anak, melainkan juga sebagai bagian dari upaya membangun kualitas manusia sejak awal kehidupan.
Perspektif tersebut penting karena fondasi pembangunan manusia tidak dimulai ketika seorang anak memasuki bangku sekolah, memperoleh keterampilan, atau memasuki dunia kerja. Fondasi itu dibangun jauh sebelumnya, sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan, periode yang dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Apa yang terjadi pada periode ini tidak hanya mempengaruhi kesehatan anak hari ini, tetapi juga berpotensi membentuk kualitas hidupnya di masa depan.
Menyusui: Investasi yang Dimulai Sejak Awal Kehidupan
Pembangunan manusia kerap dibicarakan melalui indikator pendidikan, produktivitas, dan keterampilan. Ketiganya memang penting. Namun, jauh sebelum seorang anak mulai belajar membaca, mengembangkan keterampilan, atau mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, ada kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi: kesehatan, gizi, dan lingkungan pengasuhan yang mendukung tumbuh kembangnya.
Di sinilah menyusui memiliki arti yang jauh melampaui pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi.
Pemberian ASI merupakan bagian penting dari upaya melindungi kesehatan ibu dan anak, sekaligus mendukung tumbuh kembang anak dan kesejahteraan keluarga. Kajian Global Investment Case for Improved Breastfeeding menunjukkan bahwa investasi dalam perlindungan, promosi, dan dukungan menyusui berpotensi memberikan manfaat jangka panjang bagi modal manusia, termasuk pendidikan dan kemampuan kognitif.
Pada tingkat global, perluasan cakupan intervensi menyusui juga diproyeksikan dapat mencegah hilangnya jutaan tahun pendidikan dan kemampuan kognitif. Angka-angka ini mengingatkan kita bahwa investasi pada awal kehidupan bukan sekadar pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Ia merupakan investasi pada kapasitas manusia yang akan menentukan masa depan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Manfaatnya juga dapat dilihat dari perspektif ekonomi.
Ketika praktik pemberian ASI tidak berjalan optimal, konsekuensinya tidak berhenti pada ibu dan anak. Beban tersebut dapat meluas ke keluarga dan sistem kesehatan, termasuk melalui meningkatnya risiko penyakit yang membutuhkan penanganan medis. Di Indonesia, biaya sosial yang berkaitan dengan kondisi ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1,6 triliun per tahun, termasuk biaya kesehatan dan non kesehatan akibat diare dan pneumonia.
Sebaliknya, menciptakan lingkungan yang mendukung ibu menyusui—melalui kebijakan cuti melahirkan, dukungan di tempat kerja, pelayanan kesehatan, dan pendampingan yang memadai—merupakan investasi yang dapat membantu mencegah timbulnya beban sosial yang lebih besar.
Dari sini, pesan yang perlu digarisbawahi menjadi jelas: mendukung ibu menyusui bukan hanya tindakan untuk melindungi kesehatan bayi, tetapi juga investasi bagi kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.
Manfaatnya mungkin tidak seluruhnya terlihat dalam waktu singkat. Namun, sebagaimana banyak intervensi pada awal kehidupan, dampaknya dapat terbawa jauh melampaui masa ketika intervensi itu diberikan.
Meski demikian, pentingnya menyusui tidak serta-merta membuat praktiknya mudah dilakukan.
Ketika Pengetahuan Saja Tidak Cukup
Jika manfaat ASI sudah banyak diketahui, mengapa seorang ibu masih menghadapi kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif?
Pertanyaan ini membawa kita pada satu hal mendasar: pengetahuan merupakan bekal penting, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan menyusui.
Studi yang dibahas dalam forum menunjukkan bahwa sekitar separuh ibu yang diteliti memiliki pengetahuan yang baik mengenai menyusui. Namun, pengetahuan tersebut tidak secara otomatis berhubungan dengan keberhasilan memberikan ASI eksklusif.
Temuan ini mengajak kita untuk melihat persoalan secara lebih utuh. Seorang ibu mungkin memahami manfaat ASI, tetapi tetap mengalami kesulitan ketika produksi ASI dirasakan tidak mencukupi, menghadapi tekanan untuk kembali bekerja, atau tidak memperoleh dukungan dari lingkungan terdekatnya.
Ia mungkin membutuhkan konseling ketika mengalami kendala menyusui, pasangan yang bersedia berbagi peran dalam pengasuhan, keluarga yang tidak memberikan tekanan, atau tempat kerja yang menyediakan waktu dan fasilitas untuk memerah serta menyimpan ASI. Ia juga membutuhkan tenaga kesehatan yang kompeten dan mudah diakses ketika muncul persoalan.
Sebaliknya, lingkungan sosial yang kurang mendukung, keterbatasan fasilitas, dan paparan promosi produk pengganti ASI dapat menjadi tantangan tersendiri.
Artinya, keberhasilan menyusui tidak dapat dibebankan hanya kepada ibu. Ada tanggung jawab yang perlu dipikul bersama oleh keluarga, tenaga kesehatan, pemberi kerja, pemerintah, dan masyarakat.
Sejumlah aspek pun masih perlu diperkuat, mulai dari konseling menyusui dan pelaksanaan inisiasi menyusu dini hingga dukungan di tempat kerja serta keterlibatan keluarga dan komunitas.
Karena itu, upaya meningkatkan keberhasilan menyusui membutuhkan lebih dari sekadar penyebaran informasi. Diperlukan tenaga kesehatan yang memiliki kapasitas memadai, layanan yang responsif terhadap kebutuhan ibu, fasilitas yang mendukung, serta lingkungan sosial yang tidak menempatkan seluruh tanggung jawab pada perempuan.
Persoalannya bukan semata-mata bagaimana meyakinkan seorang ibu untuk menyusui, melainkan bagaimana memastikan bahwa ketika ia ingin menyusui, lingkungan di sekitarnya memungkinkan hal itu dilakukan.
Perubahan perspektif ini penting. Dari yang semula berfokus pada perilaku individu, perhatian bergeser pada kondisi yang membentuk perilaku tersebut. Dari yang semula menempatkan ibu sebagai pusat tanggung jawab, kita bergerak menuju pemahaman bahwa keberhasilan menyusui merupakan hasil dari dukungan sebuah ekosistem.
Lalu, dimana sektor filantropi dapat mengambil peran dalam membangun ekosistem tersebut?
Dari Program Kesehatan Menuju Ekosistem Dukungan
Pada pandangan pertama, isu menyusui mungkin tampak sebagai ranah yang terutama menjadi tanggung jawab pemerintah dan sektor kesehatan. Namun, jika dilihat dari berbagai faktor yang mempengaruhinya, terbuka ruang kontribusi yang lebih luas bagi sektor filantropi.
Selama ini, berbagai organisasi filantropi telah bekerja dalam isu kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi, pencegahan stunting, kesehatan reproduksi, serta perlindungan kelompok rentan. Intervensi yang dilakukan pun beragam, mulai dari edukasi dan konseling, pendampingan keluarga, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader, hingga pengembangan layanan kesehatan berbasis komunitas.
Berbagai upaya tersebut memiliki keterkaitan erat dengan terciptanya lingkungan yang mendukung ibu menyusui.
Sebuah organisasi, misalnya, tidak harus memiliki program khusus tentang ASI untuk dapat berkontribusi pada keberhasilan menyusui. Ketika organisasi tersebut memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, meningkatkan kapasitas kader, memperluas akses terhadap informasi gizi, atau mendampingi keluarga dalam memenuhi kebutuhan kesehatan anak, sesungguhnya ada bagian dari ekosistem menyusui yang turut diperkuat.
Perspektif ini membuka peluang untuk menghubungkan berbagai inisiatif yang selama ini berjalan dalam lingkup program masing-masing. Program kesehatan, gizi, penguatan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat tidak harus selalu diposisikan sebagai intervensi yang terpisah. Dengan tujuan yang saling terhubung, semuanya dapat berkontribusi pada hasil yang lebih besar.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, termasuk mereka yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di wilayah seperti ini, dukungan berbasis komunitas dapat menjadi jembatan antara kebutuhan keluarga dan layanan kesehatan yang tersedia.
Peran tersebut juga penting dalam situasi bencana.
Ketika bencana terjadi, ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian khusus. Terputusnya akses terhadap layanan kesehatan, terganggunya ketersediaan air bersih, terbatasnya pangan, dan berpindahnya keluarga dari tempat tinggal mereka dapat memperbesar kerentanan kelompok ini.
Dalam situasi demikian, respons kemanusiaan tidak cukup hanya memastikan ketersediaan bantuan pangan. Kebutuhan gizi ibu dan anak, keberlanjutan praktik pemberian makan bayi dan anak, serta akses terhadap konseling laktasi juga perlu menjadi bagian dari perhatian.
Pengalaman sektor filantropi dalam respons bencana dapat menjadi modal penting untuk memperkuat dukungan tersebut, antara lain melalui edukasi keluarga, penguatan kapasitas kader, pendampingan ibu menyusui, serta koordinasi dengan tenaga kesehatan dan pemerintah.
Dengan demikian, kontribusi filantropi tidak selalu harus dimulai dari membangun program baru. Dalam banyak situasi, nilai tambah terbesar justru terletak pada kemampuannya menghubungkan sumber daya, memperkuat inisiatif yang sudah berjalan, dan menjangkau kelompok yang belum memperoleh dukungan memadai.
Menghubungkan Peran, Memperkuat Dampak
Membangun ekosistem yang mendukung menyusui pada akhirnya membutuhkan pembagian peran yang jelas sekaligus kolaborasi yang kuat.
Pemerintah berperan dalam membangun kebijakan, memastikan perlindungan, dan memperkuat sistem pelayanan. Fasilitas serta tenaga kesehatan menyediakan layanan dan pendampingan yang dibutuhkan ibu. Pemberi kerja menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan perempuan tetap menyusui setelah kembali bekerja. Pasangan dan keluarga memberikan dukungan dalam keseharian, sementara komunitas turut membentuk norma sosial yang mempengaruhi pengalaman seorang ibu.
Filantropi dapat mengambil posisi strategis dengan memperkuat hubungan di antara berbagai peran tersebut.
Peran itu dapat diwujudkan melalui peningkatan kapasitas organisasi dan tenaga pendamping, perluasan jangkauan layanan, pengembangan model intervensi berbasis komunitas, serta pengumpulan pembelajaran dari berbagai inisiatif. Filantropi juga dapat mempertemukan pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas untuk mengidentifikasi kesenjangan dukungan serta mencari solusi bersama.
Pendekatan semacam ini memungkinkan sumber daya yang terbatas digunakan secara lebih efektif. Alih-alih mengembangkan intervensi yang berjalan sendiri-sendiri, berbagai pihak dapat membangun kesinambungan dukungan sesuai dengan peran dan kapasitas masing-masing.
Sebab, edukasi akan lebih bermakna ketika tersedia layanan yang dapat membantu ibu mengatasi kesulitan. Konseling akan lebih efektif ketika keluarga memahami bagaimana memberikan dukungan. Pelatihan kader akan lebih berdampak ketika mereka terhubung dengan tenaga kesehatan yang dapat menjadi rujukan. Sementara itu, seluruh upaya tersebut akan lebih mudah diterapkan ketika kebijakan, tempat kerja, dan lingkungan sosial memberikan ruang bagi ibu untuk menyusui.
Di sinilah pentingnya melihat menyusui sebagai bagian dari agenda bersama, bukan semata-mata sebagai tanggung jawab ibu atau program yang berdiri sendiri.
Bagi sektor filantropi, perspektif ini juga mengajak kita untuk melihat dampak secara lebih luas. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah ibu yang menerima edukasi, jumlah kader yang dilatih, atau jumlah kegiatan yang dilaksanakan. Penting pula untuk melihat apakah dukungan yang diberikan benar-benar terhubung, apakah kesenjangan layanan berkurang, dan apakah keluarga memperoleh lingkungan yang lebih mendukung untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anaknya.
Dengan kata lain, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa banyak intervensi yang dilakukan, tetapi juga seberapa jauh intervensi tersebut menghasilkan perubahan yang berarti dalam kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, membangun ekosistem untuk mendukung menyusui merupakan bagian dari upaya yang lebih besar: memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk memulai kehidupannya dengan lebih baik.
Upaya ini tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Ia membutuhkan kebijakan yang berpihak, layanan kesehatan yang responsif, tempat kerja yang mendukung, keluarga yang terlibat, komunitas yang peduli, serta filantropi yang mampu menghubungkan berbagai sumber daya dan inisiatif.
Sebab, awal kehidupan yang lebih baik tidak hanya ditentukan oleh apa yang diberikan kepada seorang anak, tetapi juga oleh lingkungan yang kita bangun untuk memastikan ia tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dan lingkungan itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Ia dibangun melalui kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan, dukungan yang saling terhubung, dan komitmen bersama untuk memastikan bahwa setiap ibu tidak harus menjalani perjalanan menyusuinya seorang diri.
Pada titik inilah dukungan terhadap menyusui menemukan maknanya yang lebih luas: bukan hanya menyelamatkan nyawa hari ini, tetapi juga ikut membangun fondasi bagi generasi yang lebih sehat, lebih berdaya, dan memiliki masa depan yang lebih baik.





