Membangun Rasa Kepemilikan untuk Menggerakkan Aksi Lingkungan Bersama

Jakarta, 8 September 2026 – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Yayasan Amanah Daya Nusantara (AYANA) dan Rumah Zakat melalui Klaster Lingkungan Hidup dan Konservasi menyelenggarakan Climate Talk Episode #1 “Iklim Indonesia: Kini, Dulu & Masa Depan – Menerjemahkan Komitmen Global menjadi Aksi Lokal yang Membumi” di Greyhound Menteng, Jakarta. Forum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan diskusi untuk melihat bagaimana isu perubahan iklim yang kompleks dan lintas sektor dapat diterjemahkan menjadi narasi serta aksi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Membumikan Isu Iklim dalam Kehidupan Sehari-hari

Diskusi berangkat dari adanya kesenjangan antara bahasa agenda iklim global dengan pengalaman masyarakat sehari-hari. Istilah seperti net zero, dekarbonisasi, NDC, target emisi, dan kenaikan suhu global masih cenderung bersifat teknis, sementara masyarakat lebih dekat dengan dampak yang mereka rasakan secara langsung, seperti gagal panen, kenaikan harga pangan, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, keterbatasan air, hingga perubahan mata pencaharian.

Karena itu, komunikasi iklim perlu bergeser dari sekadar menjelaskan istilah dan target global menjadi menghubungkan isu iklim dengan pengalaman nyata masyarakat. Dalam forum juga disampaikan bahwa riset yang sedang dilakukan menunjukkan sekitar 75% masyarakat belum memahami isu atau istilah iklim, meskipun mereka mengalami dampaknya secara langsung. Kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun narasi iklim yang lebih sederhana, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.

Menghubungkan Ekologi, Ekonomi, dan Nilai

Climate Talk juga menyoroti pentingnya menghubungkan isu lingkungan dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Perlindungan lingkungan tidak cukup disampaikan sebagai kewajiban ekologis, tetapi perlu menunjukkan kaitannya dengan ketersediaan air, ketahanan pangan, keberlanjutan mata pencaharian, kesehatan, kualitas hidup, serta keamanan ekonomi keluarga.

Nilai yang telah hidup di masyarakat juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan. Dalam konteks komunitas agama, misalnya, kebutuhan air untuk beribadah dapat menjadi ruang untuk membicarakan pentingnya menjaga sumber air, daerah hulu, sungai, dan hutan. Dengan pendekatan tersebut, ekologi, ekonomi, dan nilai dapat dihubungkan menjadi narasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Memperkuat Peran Komunitas dan Tokoh Agama

Forum turut membahas potensi tokoh dan komunitas agama dalam menjembatani isu iklim dengan masyarakat. Kedekatan dan tingkat kepercayaan yang dimiliki tokoh agama dapat menjadi modal penting untuk menerjemahkan isu iklim ke dalam bahasa yang sederhana, menghubungkan nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan, serta mendorong perubahan perilaku di tingkat komunitas.

Pendekatan tersebut dapat dikembangkan melalui aksi iklim lintas iman, dengan menggunakan isu yang lebih dekat dengan masyarakat seperti air, pangan, kebersihan, sampah, kesehatan, dan mata pencaharian sebagai pintu masuk untuk membangun kesadaran dan aksi iklim.

Menjembatani Kesenjangan antara Kebijakan dan Implementasi

Indonesia telah memiliki berbagai komitmen, kebijakan, regulasi, dan perencanaan terkait perubahan iklim. Namun, diskusi menyoroti masih adanya kesenjangan antara komitmen di tingkat nasional dengan implementasi di lapangan. Tantangan tersebut antara lain kapasitas implementasi daerah yang belum merata, potensi tumpang tindih kebijakan, keterbatasan dalam menerjemahkan komitmen nasional menjadi tindakan lokal, serta belum kuatnya hubungan antara pengetahuan ilmiah, pengambilan kebijakan, dan implementasi.

Karena itu, aksi iklim tidak cukup hanya menghasilkan kebijakan baru. Diperlukan penyelarasan antara pemerintah, komunitas ilmiah, masyarakat, dunia usaha, dan aktor lokal, disertai penguatan kapasitas implementasi dan pengawasan.

Dari Fragmentasi Menuju Aksi Kolektif

Berbagai inisiatif perubahan iklim telah berkembang di pemerintah, filantropi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, komunitas keagamaan, dan masyarakat lokal. Namun, sebagian masih berjalan secara terpisah dengan perbedaan data, indikator, metode pengukuran, serta pendekatan program.

Forum mendorong agar berbagai pihak tidak hanya melihat satu sama lain sebagai kompetitor dalam memperebutkan sumber daya, tetapi mulai mengonsolidasikan kapasitas yang dimiliki untuk memperbesar dampak. Hal ini membutuhkan bahasa bersama, indikator yang selaras, Theory of Change yang saling terhubung, pembagian peran yang jelas, serta kerangka aksi kolektif.

Pendekatan tersebut juga perlu bergerak dari ego-system menuju ecosystem, yaitu melihat krisis iklim sebagai persoalan bersama yang membutuhkan agenda, sumber daya, tanggung jawab, dan ukuran keberhasilan bersama.

Mendorong Aksi yang Tidak Hanya Tangguh, tetapi Regeneratif

Diskusi juga memperluas cara pandang mengenai ketahanan iklim. Masyarakat dan ekosistem tidak hanya perlu memiliki kemampuan untuk bertahan dan kembali ke kondisi sebelumnya setelah menghadapi krisis, tetapi juga didorong menuju regenerasi.

Pendekatan ini berarti tidak hanya menghentikan deforestasi, tetapi juga memulihkan hutan; tidak hanya menjaga ketersediaan air, tetapi memperbaiki daerah tangkapan air; serta tidak hanya mengurangi kerusakan, tetapi meningkatkan kembali kualitas ekosistem. Dengan demikian, aksi iklim diarahkan untuk menyentuh akar persoalan dan memperbaiki sistem dalam jangka panjang.

Membangun Rasa Kepemilikan untuk Menggerakkan Aksi

Pada akhirnya, diskusi menegaskan bahwa keberhasilan aksi iklim tidak hanya bergantung pada kebijakan, teknologi, atau pendanaan, tetapi juga pada kemampuan membangun rasa kepemilikan, nilai bersama, dan aksi kolektif. Pendekatan berbasis nilai perlu dikombinasikan dengan segmentasi masyarakat karena setiap kelompok memiliki konteks, kebutuhan, dan potensi perubahan yang berbeda.

Sebagai tindak lanjut, hasil Climate Talk menjadi masukan untuk pengembangan program, kemitraan, dan kegiatan berbagi pengetahuan terkait aksi iklim, termasuk pengembangan Climate Leadership Lab. PFI bersama mitra juga membuka peluang untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dan lintas iman dalam membangun narasi, kepemimpinan, dan aksi iklim yang lebih kontekstual dan membumi.

Bagikan:

Rekomendasi Berita

Dokumentasi PSD 31 - 2
Perhimpunan Filantropi Indonesia Dorong Optimalisasi Insentif Pajak Yayasan Sosial dan Pendidikan melalui PSD #31
Pertemuan Daring Pengembangan Inisiatif Perlindungan Relawan COVID-19
Pertemuan Daring Pengembangan Inisiatif Perlindungan Relawan COVID-19
Respons Plan Indonesia terhadap Situasi Darurat COVID-19
Respons Plan Indonesia terhadap Situasi Darurat COVID-19

Berita Terkini

554cb349-991a-4039-94f2-b7216ec7b558
Menuju Ekosistem Filantropi yang Lebih Terhubung melalui Platform Digital PFI
WhatsApp Image 2026-09-30 at 16.03
Menuju Resiliensi Iklim: Mendorong Integrasi Data, Mobilisasi Sumber Daya, dan Kolaborasi Lintas Sektor Filantropi
IMG_8651
Dari Tahu Menjadi Laku: Belajar Mengelola Sampah melalui Aksi Nyata
Dapatkan berita dan informasi terbaru dari kami

Buat langkah kecil untuk bangkitkan perubahan