Oleh: Ahmad Zakky Habibie, Anggota Badan Pengurus PFI
Di tengah ledakan kecerdasan artifisial (KA), banjir informasi digital, dan krisis atensi generasi muda, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan lagi sekadar bagaimana membuat anak mampu mengakses informasi, tetapi bagaimana membantu mereka memahami, memaknai, dan menggunakan pengetahuan secara bijak di tengah dunia yang semakin kompleks.
Bulan Mei selalu menjadi momentum reflektif bagi dunia pendidikan Indonesia. Setiap tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional diperingati bukan sekadar sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai pengingat bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Pada tahun 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengangkat tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini membawa pesan penting bahwa pendidikan tidak dapat dibangun secara parsial.
Konsep partisipasi semesta yang diusung mencakup catur pusat pendidikan, yaitu sekolah, masyarakat, orang tua atau wali, serta media dimana media sosial termasuk di dalamnya. Keempat elemen ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara anak belajar, berpikir, berinteraksi, dan memaknai dunia di sekitarnya.
Dalam pidatonya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan harus dijalankan dengan kasih sayang, keteladanan, dan keberpihakan pada tumbuh kembang peserta didik secara utuh. Gagasan ini sesungguhnya telah lama hidup dalam filosofi pendidikan Indonesia melalui konsep asah, asih, dan asuh yang diperkenalkan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikir (asah), tetapi juga membangun kepedulian (asih) dan pendampingan yang memerdekakan (asuh).
Semangat tersebut juga tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang menempatkan pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun peradaban. Dalam konteks pembangunan nasional hari ini, penguatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi salah satu prioritas penting dalam visi pembangunan Indonesia ke depan. Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan tidak lagi cukup hanya berfokus pada akses, tetapi juga kualitas pengalaman belajar yang diterima anak-anak Indonesia.
Pembelajaran Mendalam di Era Kecerdasan Artifisial
Perubahan zaman telah mengubah cara manusia belajar. Anak-anak tumbuh di era digital dengan akses informasi yang nyaris tanpa batas. Teknologi dan kecerdasan artifisial memungkinkan informasi diperoleh dalam hitungan detik. Tetapi akses informasi tidak otomatis melahirkan pemahaman. Di tengah banjir informasi, kemampuan berpikir kritis, memahami konteks, memilah pengetahuan, dan menghubungkannya dengan realitas kehidupan justru menjadi semakin penting.
Karena itu, dorongan Kemendikdasmen terhadap pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam peringatan Hardiknas tahun ini menjadi sangat relevan. Pendekatan ini menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui pengembangan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara terpadu. Dalam pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi dengan penuh kesadaran terlibat aktif mengeksplorasi, bertanya, berdiskusi, merefleksikan, dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Guru pun tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang mendampingi proses tumbuh peserta didik.
Pembelajaran mendalam menjadi penting karena sistem pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa >99% murid di Indonesia hanya bisa menjawab soal Lower Order Thinking Skills (LOTS), dan hanya <1% yang bisa menjawab Higher Order Thinking Skills (HOTS). Data ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran kita masih cenderung berfokus pada kemampuan mengingat dan mengulang informasi, belum sepenuhnya mendorong kemampuan menganalisis, merefleksikan, dan memecahkan persoalan secara kritis.
Di era kecerdasan artifisial, pendidikan tidak bisa lagi hanya berfokus pada transfer pengetahuan. Ketika informasi dapat diperoleh dengan mudah, kemampuan manusia untuk berpikir mendalam, memahami konteks sosial, membangun relasi, dan menciptakan makna menjadi semakin penting. Karena itu, pendekatan pembelajaran mendalam menjadi relevan bukan hanya sebagai inovasi pendidikan, tetapi sebagai kebutuhan strategis bangsa dalam mempersiapkan manusia Indonesia menghadapi disrupsi teknologi, perubahan ekonomi, dan tantangan sosial abad ke-21.
Padahal, tantangan masa depan membutuhkan kemampuan yang jauh lebih kompleks. Dunia kerja berubah dengan cepat. Banyak jenis pekerjaan baru muncul, sementara sebagian pekerjaan lama perlahan tergantikan oleh otomatisasi dan kecerdasan artifisial. Di saat yang sama, manusia juga menghadapi tantangan sosial yang semakin besar seperti krisis kesehatan mental, polarisasi sosial, disinformasi digital, hingga krisis lingkungan. Semua ini membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara emosional, adaptif, kolaboratif, dan memiliki kesadaran sosial.
Filantropi dalam Penguatan Ekosistem Pendidikan
Namun, transformasi menuju pembelajaran mendalam tidak mungkin dilakukan oleh sekolah dan guru saja. Pendidikan adalah sebuah ekosistem. Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terhubung dari kondisi keluarga, lingkungan sosial, budaya belajar masyarakat, kualitas kebijakan, akses teknologi, kapasitas guru, hingga dukungan komunitas. Karena itu, perubahan pendidikan membutuhkan pendekatan ekosistem yang melibatkan banyak aktor secara kolektif.

Sumber: Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua, Kemendikdasmen (2026).
Dalam implementasinya, pembelajaran mendalam perlu ditopang oleh empat elemen utama yang saling terhubung dalam menciptakan pengalaman belajar yang utuh bagi peserta didik, yakni praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital. Praktik pedagogis menekankan bagaimana guru menghadirkan proses belajar yang aktif, reflektif, dan bermakna. Kemitraan pembelajaran menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Lingkungan pembelajaran berhubungan dengan terciptanya ruang belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik. Sementara pemanfaatan digital mendorong penggunaan teknologi secara bijak untuk memperkuat kualitas pembelajaran.
Sesungguhnya, berbagai praktik yang selaras dengan prinsip pembelajaran mendalam telah lama dijalankan oleh sektor filantropi di Indonesia melalui berbagai inisiatif yang berorientasi pada pengembangan kapasitas manusia, perluasan akses belajar, dan penguatan ekosistem pendidikan. Komitmen tersebut juga tercermin dalam Indonesia Philanthropy Outlook 2022 dan 2024 yang menunjukkan bahwa sektor pendidikan secara konsisten menempati posisi pertama dan kedua sebagai fokus filantropi terbanyak. Dukungan yang konsisten ini menunjukkan budaya filantropi yang baik, namun perlu dipahami bahwa di sektor pendidikan, filantropi perlu beraksi lebih dari sekadar sebagai praktik pemberian bantuan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdampak.
Di tengah kompleksitas tantangan pendidikan saat ini, filantropi memiliki ruang untuk memperkuat kolaborasi, partisipasi masyarakat, dan inovasi pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan peserta didik. Peran tersebut menjadi semakin penting karena transformasi pendidikan tidak dapat dilakukan oleh sekolah maupun pemerintah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dalam satu ekosistem pembelajaran.
Pada aspek praktik pedagogis, filantropi dapat mendukung penguatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan agar mampu menghadirkan proses belajar yang lebih reflektif, partisipatif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui pelatihan guru, mentoring, fellowship pendidikan, pengembangan modul pembelajaran inovatif, hingga pembentukan komunitas praktik antarguru yang mendorong lahirnya budaya belajar yang lebih bermakna. Dalam konteks ini, filantropi telah lama mengambil peran melalui program pelatihan guru, mentoring, fellowship pendidikan, pengembangan modul pembelajaran inovatif, hingga pembentukan komunitas praktik antar guru.
Pada aspek lingkungan pembelajaran, filantropi berperan dalam menciptakan ruang belajar yang aman, inklusif, dan memperkuat ekosistem belajar berbasis komunitas. Pembelajaran mendalam tidak hanya terjadi di ruang kelas formal, tetapi juga tumbuh melalui interaksi sosial dan pengalaman keseharian. Karena itu, banyak lembaga filantropi mendukung komunitas literasi, taman baca, ruang kreatif anak muda, laboratorium sosial, pusat kegiatan masyarakat, hingga inisiatif pendidikan berbasis budaya lokal. Pendekatan komunitas seperti ini sering kali lebih dekat dengan realitas sosial peserta didik dan mampu menghadirkan proses belajar yang relevan, kontekstual, inklusif, sekaligus mendorong rasa ingin tahu dan keberanian bereksplorasi.
Dalam aspek pemanfaatan teknologi digital, filantropi memiliki ruang besar untuk membantu memperluas akses teknologi dan mengurangi kesenjangan pendidikan, terutama di daerah terpencil dan kelompok masyarakat rentan. Tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan fasilitas fisik, tetapi juga akses terhadap teknologi, sumber belajar, dan literasi digital yang masih belum merata. Dengan fleksibilitas yang dimiliki, filantropi dapat bergerak lebih adaptif dalam menjawab kebutuhan lokal yang belum sepenuhnya terjangkau oleh sistem formal. Pendekatan ini penting agar implementasi pembelajaran mendalam tidak hanya hadir di sekolah-sekolah tertentu, tetapi dapat dirasakan lebih merata oleh peserta didik di berbagai wilayah.
Sementara itu, dalam aspek kemitraan pembelajaran, filantropi berperan dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pendidikan. Transformasi pendidikan, termasuk implementasi pembelajaran mendalam, tidak mungkin dilakukan oleh satu aktor saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, media, dunia usaha, dan komunitas lokal. Dalam banyak praktik, filantropi justru memiliki kemampuan untuk menjadi penghubung yang mempertemukan berbagai aktor tersebut dalam semangat gotong royong dan aksi kolektif. Fleksibilitas sektor filantropi memungkinkan lahirnya ruang kolaborasi, inovasi, dan eksperimen sosial yang dapat memperkuat transformasi pendidikan secara lebih berkelanjutan.
Praktik-praktik baik ini sebenarnya telah lama berkembang di Indonesia. Dalam banyak praktiknya, pendekatan yang dikembangkan sektor filantropi telah sejalan dengan prinsip-prinsip pembelajaran mendalam melalui advokasi literasi, penguatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), peningkatan kapasitas guru, dukungan beasiswa, pengembangan kepemimpinan muda, hingga penguatan tata kelola pendidikan berbasis masyarakat. Klaster Filantropi Pendidikan (KFP) menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi antarlembaga filantropi mulai dibangun untuk memperkuat dampak secara lebih sistematis dan berkelanjutan.
Filantropi tidak hanya hadir sebagai pendukung program pendidikan, tetapi juga sebagai katalis yang memperkuat kolaborasi, inovasi, dan partisipasi berbagai pihak dalam membangun ekosistem belajar yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Ketika pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia usaha, dan sektor filantropi bergerak bersama, pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan gerakan kolektif untuk membangun masa depan Indonesia.
Di era ketika teknologi dapat menggantikan banyak fungsi manusia, pendidikan justru harus semakin memanusiakan manusia. Karena masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa dalam manusia Indonesia mampu berpikir, berempati, bekerja sama, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
Foto oleh Steve A Johnson dari Unsplash






