Jakarta, 20 Oktober 2026 — Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama INOVASI melalui Klaster Filantropi Pendidikan menyelenggarakan Ngobrolin Pendidikan Indonesia (NGOPI) #2 bertajuk “Scoping Climate Space in Education: Memetakan Inisiatif Pendidikan Perubahan Iklim Anggota Perhimpunan Filantropi Indonesia” di Ruang Meeting INOVASI, Summitmas II, Jakarta.
Forum ini mempertemukan organisasi anggota PFI untuk berbagi pengalaman, praktik baik, dan pembelajaran dalam mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam program pendidikan. Diskusi juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi cakupan program, wilayah implementasi, kelompok sasaran, pendekatan pembelajaran, serta peluang kolaborasi dalam memperluas akses dan meningkatkan kualitas Pendidikan Perubahan Iklim (PPI), khususnya bagi anak usia sekolah dasar.
Beragam Pendekatan Pendidikan Perubahan Iklim
Dalam forum ini, anggota PFI berbagi berbagai pendekatan untuk mengenalkan isu perubahan iklim kepada anak dan masyarakat. INOVASI menyampaikan pengalaman dalam mendukung penguatan kebijakan dan ekosistem pendidikan, pengembangan bahan ajar kontekstual, peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah, serta pembelajaran berbasis praktik di lingkungan sekolah.
Bersama mitra, termasuk Yayasan Litara, INOVASI telah mengembangkan 32 buku nonfiksi pendidikan perubahan iklim dengan konteks lokal dari tujuh wilayah, yaitu Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Inisiatif ini menunjukkan pentingnya bahan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak dan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Anggota lainnya juga membagikan pengalaman dalam pendidikan lingkungan. Rumah Zakat, misalnya, mengembangkan edukasi melalui Sekolah Juara, termasuk pengumpulan minyak jelantah, pengelolaan sampah organik, dan program Carbon Warrior. Greeneration Foundation berbagi pengalaman dalam pendampingan inisiatif lingkungan bagi pelajar SMA melalui kegiatan bersih lingkungan, lokakarya, serta edukasi kebencanaan dan pangan lokal.
Dompet Dhuafa menyampaikan pengalamannya dalam pengembangan media pembelajaran, literasi keluarga dan masyarakat, serta dukungan pendidikan aman bencana. Sementara itu, Yayasan Sayap Ibu berbagi pendekatan pembelajaran lingkungan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus, seperti berkebun, mengolah hasil panen menjadi makanan sehat, dan kegiatan eco-print.
Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan perubahan iklim dapat dikembangkan melalui beragam metode, mulai dari literasi dan pengembangan bahan bacaan hingga praktik langsung yang melibatkan sekolah, keluarga, dan komunitas.
Mengidentifikasi Tantangan dan Kesenjangan
Meskipun berbagai inisiatif telah berjalan, diskusi mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas pendidikan perubahan iklim di Indonesia.
Ketersediaan bahan ajar yang sesuai dengan konteks lokal masih belum merata. Distribusi bahan bacaan ke wilayah terpencil juga menghadapi kendala biaya, sementara guru dan sekolah membutuhkan dukungan praktis untuk mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam proses pembelajaran.
Aspek inklusivitas turut menjadi perhatian. Materi dan metode pembelajaran perlu lebih memperhatikan kebutuhan anak dengan disabilitas, termasuk melalui pengembangan buku audio, media visual, dan bahan bacaan yang lebih aksesibel.
Selain itu, informasi mengenai program yang dijalankan masing-masing organisasi, wilayah kerja, kelompok sasaran, serta mitra pelaksana masih perlu dihimpun secara sistematis. Pemetaan ini penting untuk memahami siapa melakukan apa, di mana, dan bersama siapa, sehingga peluang kolaborasi dapat diidentifikasi dengan lebih jelas.
Membuka Peluang Kolaborasi Antaranggota
Melalui diskusi pemetaan ekosistem, peserta mengidentifikasi beberapa peluang kerja sama yang dapat ditindaklanjuti. Salah satunya adalah pengembangan buku cerita anak dan bahan ajar bertema perubahan iklim, bambu, mangrove, serta praktik baik masyarakat lokal. Kolaborasi ini dapat melibatkan organisasi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan bahan bacaan, pendidikan, dan konservasi.
Peluang lainnya adalah memperluas distribusi bahan bacaan melalui dukungan perusahaan dan mitra pendanaan, khususnya bagi sekolah di wilayah terpencil dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Peserta juga menjajaki potensi menghubungkan program pengelolaan sampah, pengumpulan minyak jelantah, kebun sekolah, dan kegiatan konservasi dengan sekolah serta komunitas sasaran.
Pendidikan inklusif dan pendidikan aman bencana juga menjadi area potensial untuk kolaborasi. Pengalaman organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, kemanusiaan, dan lingkungan dapat saling melengkapi untuk memperkuat ketahanan sekolah serta memastikan keberlangsungan pembelajaran di wilayah yang terdampak bencana dan perubahan iklim.
Di sisi kebijakan, hasil pemetaan program diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam memperkuat integrasi pendidikan perubahan iklim ke dalam pembelajaran dan ekosistem pendidikan.
Menuju Pemetaan dan Kolaborasi yang Berkelanjutan
NGOPI #2 menjadi langkah awal untuk membangun pemahaman bersama mengenai lanskap inisiatif pendidikan perubahan iklim yang dijalankan anggota PFI. Forum ini juga menegaskan pentingnya menghubungkan berbagai pengalaman, sumber daya, keahlian, dan jaringan organisasi agar program yang telah berjalan dapat saling melengkapi.
Tindak lanjut yang dibahas mencakup penyusunan daftar anggota PFI yang memiliki keterkaitan dengan isu perubahan iklim, penyempurnaan pemetaan program, serta penjajakan kolaborasi dalam pengembangan dan distribusi bahan ajar, pendidikan lingkungan berbasis praktik, pendidikan inklusif, dan pendidikan aman bencana.
Melalui Klaster Filantropi Pendidikan, PFI bersama INOVASI dan para anggotanya mendorong penguatan koordinasi dan pertukaran pengetahuan untuk membangun pendidikan perubahan iklim yang lebih terarah, inklusif, dan kontekstual. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pembelajaran serta membantu anak-anak dan komunitas membangun pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang mendukung ketahanan iklim sejak dini.







