Post Event PSSF: “Organizational Change Management During COVID-19”

Post Event PSSF: “Organizational Change Management During COVID-19”

Acara Philanthropy Skillshare Forum (PSSF) yang dilaksanakan pada 27 Agustus 2020 lalu, dihadiri sebanyak 34 peserta training yang terdiri dari 24 individu berasal dari organisasi yang menjadi Anggota Filantropi Indonesia dan 10 orang berasal dari non-anggota. Mengusung topik “Organizational Change Management During COVID-19”, dari training ini diharapkan dapat mengelola berbagai perubahan menejemen organisasi yang terjadi selama pandemi COVID-19 dan sikap maupun langkah bijak yang diambil, baik oleh organisasi filantropi atau non-profit dalam merespon kondisi tersebut. Di sisi lain, dibutuhkannya perumusan perubahan yang tepat pada setiap organisasi agar tidak timbul ketidakseimbangan dalam pengembangan managerial.

Pada kesempatan PSSF ke-9 ini, training dipandu oleh fasilitator yang telah menjadi praktisi komunikasi dan pengembangan organisasi, Bapak Ahmad Husein, dimana sebelumnya pernah menjadi fasilitator di PSSF sebelumnya. Acara PSSF dimulai dengan opening polling berupa gambaran peserta training mengenai keikutsertaannya dalam PSSF ini (apakah terpaksa, ingin belajar, dan lain-lain). Dari hasil yang dikumpulkan, ternyata sebanyak 4% dari jumlah peserta training mengatakan bahwa mereka terpaksa mengikuti karena tuntutan organisasi/atasan. Namun, tidak menyurutkan semangat untuk ingin tahu lebih, sebanyak 40% peserta teridentifikasi sebagai ‘explorer’ dimana mereka setidaknya berkemauan belajar lebih banyak dari materi training yang diberikan.

Fasilitator yang akrab dipanggil dengan Pak Husein ini, menjelaskan bahwa hal ini lumrah terjadi di tiap organisasi karena tergantung dari pengembangan individu tersebut maupun organisasinya; mungkin bersifat otoriter. Oleh sebabnya, Pak Husein memulai pemaparannya agar dapat memacu semangat perubahan dari tiap peserta training. Dalam presentasi yang ditayangkan, Pak Husein mengakui bahwa dampak pandemi COVID-19 cukup mengubah ‘pola hidup’ organisasi dan menambahkan kebutuhan khususnya kepada organisasi konvensional untuk dapat ditopang serta berjalan secara daring.

“Dari blog komite Palang Merah Internasional yang menuliskan bahwa pandemi COVID-19 merubah masa depan organisasi kemanusiaan; baik segi organisasi, struktur, hubungan dengan mitra, pendanaan, dsb. Lalu kesimpulannya adalah memang diperlukan embracing change karena perubahan itu pasti”, ujarnya. Beliau juga mengatakan bila perubahan merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan dibutuhkan sikap konprehensif. Perubahan itu bertujuan agar organisasi tetap dinamis, berasal dari internal atau eksternal. Paparan beliau selanjutnya melingkupi beberapa jenis perubahan yang patut diidentifikasi oleh masing-masing organisasi agar tidak mengubah prinsip penting. Menurutnya, ada 8 tingkatan change management yang harus dilalui oleh sebuah organisasi yaitu menumbuhkan rasa urgensi, bentuk koalisi, ciptakan visi, komunikasikan visi, hapus rintangan, menciptakan kemenangan jangka pendek, mengawal perubahan dan mengukuhkan perubahan ke dalam budaya organisasi. Dari ke-8 tingkatan ini, paling tidak sebuah organisasi mampu membawa dirinya untuk bersiap terhadap tantangan seperti pandemi COVID-19.

Semoga ilmu dan semua yang dipelajari dapat menjadi pandangan baru ya bagi organisasi Filantrop.
Menuju perubahan dan melampauinya! 🚀

#PSSF
#FilantropiIndonesia

Bagikan:

Filantropi Indonesia

Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) adalah lembaga nirlaba dan mandiri yang dimaksudkan untuk memajukan sektor filantropi di Indonesia agar dapat berkontribusi terhadap pencapaian keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan.

Leave your comments