REGISTRASI

Yayasan Buddha Tzu Chi adalah sebuah NGO yang didirikan seorang bhiksuni, yaitu Master Cheng Yen, pada tahun 1966. Yayasan ini berpusat di Hualien, Taiwan dan saat ini telah memiliki cabang di 54 negara dan telah tercatat sebagai salah satu International NGO oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Di awal pendiriannya, Master Cheng Yen mengajak 30 ibu rumah tangga untuk setiap hari menyisihkan 50 sen dari uang belanja mereka dan menabungkannya dalam celengan bambu untuk membantu sesama. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk memberikan bantuan amal pada masyarakat miskin dan menderita. Master Cheng Yen mengajak para ibu rumah tangga ini untuk mengikrarkan niat baik setiap hari dan beramal dimulai dari dana kecil. Dengan semangat celengan bambu inilah misi amal Yayasan Buddha Tzu Chi dimulai, dan cinta kasih universal pun tersebar ke seluruh dunia.

Di Indonesia, Yayasan Buddha Tzu Chi berdiri pada tahun 1993 dan hingga saat ini telah memiliki kantor perwakilan / penghubung di 17 kota di seluruh Indonesia. Kegiatan Tzu Chi terfokus pada 4 Misi Utama sebagai berikut:

1. Misi Amal Sosial: Membantu masyarakat yang tidak mampu dimana kegiatannya mencakup bantuan biaya pengobatan, bantuan biaya pendidikan, bantuan kebutuhan hidup sehari-hari bagi masyarakat tidak mampu, dan bantuan bencana alam.

2. Misi Kesehatan: Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mengadakan bakti sosial pengobatan gratis skala besar (bibir sumbing, minor, mayor, katarak, hernia, dll) serta bakti sosial umum dan gigi.

3. Misi Pendidikan: Mengusahakan agar pendidikan dapat dinikmati seluas-luasnya, antara lain melalui bantuan renovasi sekolah pascabencana, pendirian dan pengelolaan sekolah, serta menyebarluaskan budaya humanis di bidang pendidikan.

4. Misi Budaya Humanis: menyebarluaskan budaya cinta kasih universal dan pelestarian lingkungan melalui media cetak dan elektronik yang berafiliasi dengan DAAI TV Indonesia.

Dalam menjalankan misinya Tzu Chi berlandaskan cinta kasih universal dan selalu memegang teguh prinsip tidak membeda-bedakan agama, ras, suku, dan etnis. Relawan dengan latar belakang yang beragam pun bersama-sama melaksanakan misi kemanusiaan ini sehingga cinta kasih dapat tersebar di berbagai penjuru dunia.