REGISTRASI
Di posting : 26 September 2017

Kita semua datang di sini untuk belajar bersama, sehingga semua orang punya hak untuk bertanya atau menyatakan pendapat.” - Luna Vidya

 

Makassar – Pada Selasa (19/9) lalu, Philanthropy Learning Forum on SDGs berhasil diselenggarakan di kota Makassar. Makassar menjadi kota kedua dalam program Sosialisasi SDGs di tujuh kota - Philanthropy Learning Forum on SDGs yang mendapat dukungan penuh dari Ford Foundation. Pada kesempatan kali ini, Filantropi Indonesia bekerja sama dengan BaKTI, sebuah yayasan di Makassar yang mempunyai fokus dalam pembangunan dan penyediaan ilmu pengetahuan di kawasan Timur Indonesia.

Dengan mengusung topik ‘SDGs Sebagai Tools Peningkatan Kapasitas dan Pengembangan Kemitraan’, acara di Makassar ini menghadirkan narasumber yang relevan untuk memaparkan kondisi di Makassar. Narasumber yang hadir yaitu Amri Akbar (Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kota Makassar), Muh. Yusran Laitupa (Direktur Eksekutif Yayasan BaKTI), Abdul Madjid Sallatu (Akademisi dan Koordinator JiKTI), dan Hamid Abidin (Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia). Sedangkan, moderator acara adalah Luna Vidya (communication specialist di Yayasan BaKTI).

Sebagai pembicara pertama, Hamid Abidin, memberikan pemaparan tentang definisi filantropi, potensi masyarakat Indonesia dalam kegiatan beramal dan berderma, serta peran Filantropi Indonesia sebagai sebuah asosiasi filantropi satu-satunya di Indonesia. Dalam kaitannya dengan isu SDGs (Sustainable Development Goals), Hamid Abidin juga menyampaikan tentang keberadaan SDG Philanthropy Platform, sebagai sebuah platform global yang mendorong pencapaian SDGs melalui sektor filantropi.

Pembicara kedua adalah Amri Akbar selaku Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kota Makassar. Dalam paparannya, Amri Akbar menyampaikan materi tentang monitoring MDGs dan Target SDGs yang berjalan di kota Makassar.  Amri Akbar juga menyampaikan empat alasan kota Makassar melakukan SDGs yaitu peningkatan kesejahteraan ekonomi berkesinambungan, menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, pembangunan yang menjamin keadilan, dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas hidup dari satu generasi ke generasi.

Pembicara ketiga adalah Muh. Yusran Laitupa selaku Direktur Eksekutif dari Yayasan BaKTI. Muh. Yusran menyampai peran BaKTI sebagai sebuah lembaga non-profit yang memfasilitasi pertukaran pengetahuan melalui program-program pembangunan yang dijalankan selama ini, khususnya di kawasan Indonesia timur. BaKTI juga kerap melibatkan peran serta dari lembaga-lembaga lokal di daerah setempat. Sampai saat ini, BaKTI sudah mendokumentasikan 31 praktik cerdas dan lebih 500 inisiatif cerdas yang telah diidentifikasi oleh BaKTI.

Pembicara terakhir adalah Abdul Madjid Sallatu sebagai perwakilan dari akademisi sekaligus merupakan koordinator JiKTI (Jaringan Peneliti Kawasan Timur Indonesia). Sebagai pembicara terkahir, Madjid banyak menyoroti tentang penanggulangan kesenjangan serta potensi dan dukungan filantropi dalam isu ini.

Setelah keempat narasumber memberikan paparan, moderator memberikan dua sesi untuk tanya-jawab. Dalam sesi tanya-jawab yang berlangsung selama satu jam ini, ada 15 penanya yang berasal dari berbagai lembaga non-profit, lembaga filantropi, maupun komunitas. 15 penanya ini menyampaikan gagasan dan pertanyaannya terkait inisiasi sosial dan kontribusinya terhadap kota Makassar.

Secara keseluruhan, walaupun mengangkat topik yang sama, Philanthropy Learning Forum on SDGs di Makassar ini mempunyai kesan yang sedikit berbeda dengan acara yang berlangsung di kota sebelumnya, Banjarmasin. Sebagai lembaga non-profit lokal di Makassar, Yayasan BaKTI mampu merangkul lembaga sosial dari berbagai kalangan untuk berpartisipasi dalam forum ini. Suasana diskusi dan berbagi informasi juga sangat kental dalam forum ini. Para peserta juga sepakat agar acara ini tidak berakhir di ruang diskusi, tetapi menjadi sebuah rencana aksi yang memunculkan inisiasi baru yang melibatkan berbagai aktor di kota Makassar.

Sebagai lembaga inisiator, Filantropi Indonesia berharap semangat ini tidak hanya berlangsung di kota Banjarmasin dan Makassar saja, tetapi juga di lima kota lainnya dalam program Sosialisasi SDGs di tujuh kota - Philanthropy Learning Forum on SDGs. Sampai jumpa di kota selanjutnya.

 

Unduh notulensi acara di sini.

 

HN