REGISTRASI
Di posting : 17 November 2017

Salah satu kota yang menjadi target dari program Sosialisasi SDGs yang dikunjungi oleh Filantropi Indonesia adalah Bengkulu. Secara khusus di kota ini Filantropi Indonesia menggandeng Badan Amil Zakat Nasional sebagai mitra. Acara yang diselenggarakan pada Rabu, 1 November 2017, menyajikan tema yang lebih spesifik yaitu bagaimana zakat dapat berperan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Indra utama, wakil ketua Baznas Bengkulu berpendapat bahwa zakat yang dikeluarkan oleh muzakki merupakan sarana kontribusi ke dalam kegiatan filantropi untuk mengurangi kemiskinan. Oleh karena itu ia berharap ada perda zakat di provinsi dan kabupaten yang lebih jelas. Penyaluran zakat yang telah dilakukan Baznas Bengkulu dari sembako hingga BPJS.

Sementara itu perwakilan Bappeda Bengkulu, Mgs Rizqi Al Fadli menyatakan bagi Bengkulu, memastikan pelaksanaan SDGs berarti juga melaksanakan pembangunan daerah dan mendukung pembangunan nasional, karena SDgs sejalan dengan 5 Prioritas Pembangunan Daerah dan Nawacita.  Secara umum, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Bengkulu tergolong cukup tinggi. Namun, pertumbuhan yang tinggi tersebut belum mampu mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan masih sangat rendah.

Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia (FI) memaparkan bahwa kemitraan diperlukan untuk optimalisasi peran dan kontribusi zakat dalam mendukung pembangunan nasional melalui pencapaian SDGs. FI dan Baznas telah menginisiasi program Zakat on SDGs yang akan diperluas dengan melibatkan LAZNAS dan para pihak yang menjadi mitranya (perusahaan, pemerintah, OMS/komunitas). Terakhir, Asnaini, dosen FEBI IAIN Bengkulu yang mendiskripsikan gambaran lingkaran setan kesulitan pengelolaan zakat di Bengkulu. Hal tersebut meliputi penerimaan Lembaga rendah, trust terhadap lembaga rendah, pemberian kepada mustahik kecil, dukungan pemerintahan kurang, kordinasi belum terbangun, pengetahuan atau kesadaran zakat kurat, minat ke lembaga rendah, serta produktivitas amil rendah dan terbatas. 

Dari berbagai permasalahn yang dialami dalam implementasi zakat untuk SDGs maka diperlukan solusi termasuk perubahan cara penghimpunan zakat hingga penyalurannya.

Sumber : Internal