REGISTRASI
Di posting : 05 April 2018

Pada akhir 2017 yang lalu, Asia Philanthropy Circle (APC) telah merilis laporan yang berjudul ‘Catalysing Productive Livelihood: A Guide to Education Interventions with An Accelerated Path to Scale and Impact’ (‘Education Giving Guide’). Materi yang ada di dalam laporan tersebut dianggap sebagai key project dari sektor pendidikan yang luas di Indonesia. Ada tiga hal yang ingin dicapai dari perilisan laporan tersebut. Pertama, untuk intervensi pendidikan. Adanya fakta bahwa banyak yayasan yang bekerja dalam sektor filantropi pendidikan tapi belum dapat dipastikan transparansinya. Kedua, untuk mengetahui ruang kosong yang belum tersentuh. Ketiga, mengidentifikasi peluang kolaborasi antar lembaga filantropi khususnya dalam bidang pendidikan.

Education Giving Guide yang disusun dari bulan Mei-Desember 2017 tersebut masih memiliki tantangan untuk diimplementasikan. Melalui acara Philanthropy Sharing Session, Education Giving Guide tersebut dikritisi untuk mendapatkan masukan dan saran dalam upaya menciptakan kolaborasi antara lembaga filantropi. Ada empat narasumber dalam acara tersebut yaitu Titie Sadarini dari Coca Cola Foundation (CCF), M. Abduh dari Kemendikbud, Sihol Aritonang dari Tanoto Foundation, dan M. Syafi'ie el-Bantanie dari Dompet Dhuafa.

Titie Sadarini mengungkapkan Indonesia memiliki populasi yang besar serta kondisi ekonomi yang cukup bagus tetapi masih memiliki isu yang belum selesai, yaitu kemiskinan. Jika membicarakan kemiskinan maka akan berkaitan dengan pendidikan. Lembaga Pendidikan, seperti SD, SMP, dan SMA, di daerah tersedia tetapi tidak universal, sehingga mreka harus pindah ke kota. Sementara itu anak – anak petani yang tidak mampu akan sulit untuk melanjutkan ke sekolah.

Saat melakukan survei, CCF melihat ada unleashed potential.  Di daerah perpustakaan tapi tidak dapat dimanfaatkan. Secara khusus CCF berkerja dalam pendidikan non-formal. Program utamanya adalah ‘Pepuseru’ atau ‘Perpustakaan Seru’. Misinya adalah ingin memberdayakan 20 juta masyarakat melalui perpustakaan. Hingga tahun 2017, CCF sudah memberdayakan 700 perpustakaan di 18 provinsi di Indonesia. Infrastrukur perpustakaan tersebut berasal pemerintah, sementara CCF membantu capacity building untuk para staff perpustakaan.

Sisi pemerintah juga sepaham bahwa lembaga filantropi dapat memiliki slot untuk memajukan pendidikan. Amanah Undang-Undang Sikdinas juga menyatakan bahwa tanggung jawab pendidikan juga dimiliki oleh masyarakat dan keluarga. M. Abduh menginformasikan bahwa Kemendikbud telah merilis Neraca Pendidikan Daerah (NPD). Saat ini, informasi tentang neraca pendidikan provinsi, kota, dan kabupaten dapat diakses melalui website. NPD adalah platfrom pencapain pendiidkan di daerah. Paradigmanya adalah input dan output. NPD sangat penting, karena dapat membantu banyak steakholder yang kesulitan untuk mencari data.

Sementara itu, bagi pemangku kepentingan, NPD merupakan suatu cara untuk memberikan solusi, tantangan, dan penyelesaiannya. Diperkirakan akan ada 7.000  guru yang akan pensiun dalam tiga tahun ke depan. Jika tidak diatasi maka daerah akan mengangkat guru honorer yang kualitasnya masih dipertanyakan.

Sebagai contoh peran aktif lembaga filantropi dalam bidang pendidikan di Indonesia dapat dilihat dalam aktivitas Tanoto Foundation dan Dompet Dhuafa. Untuk memperjelas Tanoto Foundation sendiri bukanlah kontraktor Corporate Social Responsibility (CSR) dari grup Tanoto. Lembaga tersebut memang telah memiliki perhatian di bidang pendidikan sejak tahun 1981. Salah satu programnya adalah ‘Pelita Pendidikan’, dengan fokus di tingkat Sekolah Dasar.

Hal menarik juga dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Sebagai sebuah Lembaga Amil Zakat yang terpercaya program pendidikan Dompet Dhuafa telah mampu membantu anak-anak marjinal untuk dapat mengenyam pendidikan melalui program beasiswa SMART Ekselensia Indonesia, meliputi pengembangan pendidikan untuk siswa dan guru.

Pada akhir acara, para narasumber dan peserta sepakat bahwa kolaborasi antar pihak sangat penting untuk kesuksesan masa depan pendidikan di Indonesia. Disekapati juga bahwa diskusi ini akan berhenti dalam wujud wacana tapi kembali dilanjutkan dengan menciptakan sebuah kerjasama dalam bentuk Klaster Filantropi Pendidikan. Tanoto Foundation akan menjadi koordinator dalam wadah kolaborasi tersebut.

Sumber : Internal