REGISTRASI
Di posting : 29 May 2017

Di Indonesia pengembangan riset masih dianggap berada di bawah tanggung jawab pemerintah. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab mengapa riset di Indonesia mengalami ketertinggalan dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand. Untuk memajukan riset di Indonesia dibutuhkan kemitraan yang strategis, salah satunya melibatkan filantropi dan bisnis. Menyadari pentingnya kemitraan dalam riset maka Filantropi Indonesia mengadakan Philanthropy Learning Forum ke-16 pada Selasa, 23 Mei 2017 dengan tema Penguatan Kemitraan Filantropi dan Bisns untuk Pengembangan Riset di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut dihadirkan empat narasumber yaitu, Okky K. Radjasa dari Kemenristek Dikti, Annisa S. Febrina dan Femmy Soemantri dari Newton Fund, serta Deni Puspahadi dari Indofood Riset Nugraha.

Okky menyatakan bahwa semenjak tahun 2014 daya saing upaya penelitian di Indonesia turun dari tahun ke tahun. Sebanyak 60 persen asset penelitian atau belanja R&D (research & development) yang ada di Indonesia dikendalikan oleh Amerika, Cina, Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu hanya 60 persen dana BOPTN yang digunakan untuk riset. Hal ini terjadi karena riset di Indonesia masih belum diperhatikan maka belum dapat didanai secara penuh. Apabila dibandingkan, perkembangan riset Indonesia pada tahun 2040 baru dapat dianggap setara dengan Korea Selatan pada tahun 2015.

Untuk dapat memajukan riset di Indonesia dibutuhkan peran dari organisasi riset di luar pemerintah seperti Newton Fund yang merupakan program kemitraan riset yang memberikan dampak sosial ekonomi dan memiliki paham trasnparan dan kompetitif. Newton Fund lebih memiliki jaringan yang kuat dengan pihak luar, khususnya British Council. Secara keseluruhan investasi yang dilakukan Inggris di Indonesia 16 persennya dilakukan untuk riset di Indonesia. Di Indonesia riset yang dilakukan Newton Fund sudah dimulai sejak September 2014. Bentuk kegiatannnya adalah open call, ada 2 regular calls (tiap tahun) dan thematic calls (one-off). Salah satu contoh riset yang telah dilakukan adalah riset yang bekerja sama dengan universitas di Makassar untuk melakukakn riset tentang coklat (cocoa). Dalam pelaksanaan risetnya Newton Fund menggunakan konsep kemitraan bisnis akademisi dengan pemerintah.

Kemitraan bisnis dalam riset juga memiliki poin penting. Seperti yang dilakukan oleh Indofood Riset Nugraha (IRN). Dalam sejarahnya, program ini dulunya bernama Program Bogasari Nugraha yang berlangsung antara tahun 1998-2005. Semenjak itu berubah menjadi Indofood Riset Nugraha hingga sekarang. IRN merupakan CSR pillar Platform yang bertujuan membuat hidup menjadi lebih dalam bidang ekonomi, kemanusiaan dan dll. Tetapi lebih berfokus pada ketahanan pangan baik itu dalam produk lokal maupun impor. Setiap tahunan Indofood Riset Nugraha setiap tahunnya melakukan riset utuk ketahanan pangan.

Dari diskusi ini terlihat bahwa kemitraan filantropi dan bisnis dapat menjadi solusi baru dalam pengembangan riset. Mengingat bahwa pada dasawarsa terakhir ini lembaga filantropi berkembang pesat dengan berbagai fokus kerja. Selain itu diharapkan dengan dorongan sumber daya yang cukup besar dari filantropi dan bisnis, riset yang dikerjakan tidak hanya berhenti sampai publikasi, namun dapat diaplikasikan sesuai hasil penelitian.

 

Sumber : Internal